Asi Karunia

Standard

Banyak orang di sekeliling saya sudah menyerah untuk terus memberikan asi kepada bayinya. Beberapa justru tidak pernah sama sekali karena: 1. Merasa asinya tidak keluar, 2. Payudaranya sakit, 3. Tidak percaya diri sehingga memilih yang pasti pasti saja, yaitu susu formula, 4. (ini yang paling tidak masuk akal) Takut payudaranya berubah bentuk, 5. Ditinggal kerja, 6. Dipaksa orang tua atau mertua untuk menggunakan susu formula saja. Saya sendiri adalah ibu yang pro asi. Belajar selama dua tahun mengenai tumbuh kembang anak, saya sangat yakin bahwa air susu anugerah ini adalah yang paling pas dan terbaik untuk bayi. Demikianlah sejak sebelum melahirkan saya sudah merawat payudara saya agar menghasilkan asi yang maksimal. Caranya: 1. Lakukan pembersihan dengan baby oil atau minyak kelapa, 2. Minum minyak kelapa 2 sendok sehari dengan teratur (ibu saya membuatkannya dengan telaten. Terima kasih, Eyang Putri), 3. Lakukan pemijatan ke arah atas dengan teratur, 4. Pakai bra yang sangat nyaman untuk ibu menyusui.

Sekalipun semua itu sudah saya lakukan, pengalaman menyusui pertama terasa begitu menantang. Payudara saya pedih sekali terkena lidah baby yang masih kasar. Belum lagi harus menahan sakitnya jahitan cesar pada saat biusnya sudah hilang. Haduh. Bagaimana ini? Di titik inilah, saya mulai berempati dengan ibu ibu yang menyerah ketika pertama menyusui anaknya. Sakit. Sakit sekali rasanya. Huh hah. Di dalam kesakitan itu, saya ingat ingat lagi bagaimana ibu saya dahulu menyusui dua orang anaknya hingga besar dan bagaimana eyang putri saya menyusui sepuluh anaknya (waktu itu belum ada susu formula, bukan?). Saya berdoa saja, “Bapa beri kekuatan dan kesempatan untuk menyusui anakku dengan ekslusif, apapun tantangannya (seperti yang saya sebutkan di atas).” Setiap kali saya perah, asi hanya keluar beberapa tetes saja. Hari pertama sampai ke tiga bahkan sampai pedihhhhhhh …. hanya satu dua tetes yang dapat dinikmati si bayi. Puji Tuhan, sistem yang dibuat Sang Pencipta memang luar biasa. Bayi yang baru lahir akan tahan untuk tidak minum selama 3×24 jam. Jadi, selama itulah saya tetap berdoa dan mencari informasi.

Daun katu. Inilah yang disebut sebagai pelancar asi. Benar saja. Ibu mertua memasakkan untuk saya. Selama tiga hari saya melahap daun katu, di samping menu lain yang disiapkan ibu saya untuk menunjang produksi asi. Semua pihak berjuang, demi keluarnya asi. Sedih, karena orang lain jadi ikut repot. Suami juga memberi semangat yang tidak ada habisnya. Teman-teman juga tidak kalah heboh mengingatkan dan membagikan testimoni mereka. Walhasil, genap satu minggu, saya bisa memerah asi 10 ml. Ah, betapa senangnya. Dan selanjutnya, 20 ml. Dan sekarang 100 ml, bahkan lebih.

Bagaimana itu bisa terjadi? Wahai para Ibu, memang sangat banyak tantangan untuk menyusui. Tetapi percayalah, asi itu karunia. Mari kita minta pada sang pemberi karunia, sebuah kesempatan untuk menyusui anak kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s