Hernia

Standard

Hari ke lima.

Saya pikir kebahagiaan ini akan baik-baik saja. Tetapi ternyata kebahagiaan harus berjumpa dengan kekhawatiran. “Benjolan apa ini?” tanya ibu saya. “Lho, kok ada? kemarin tidak ada,” jawab saya. Kami mulai melalui malam malam penuh diskusi dan browsing dan konsultasi. Sehingga akhirnya kami tahu bahwa anak saya memiliki hernia. Hernia adalah semacam usus yang turun mendekati scrotum. Hal ini dikarenakan cincin di bagian bawah perut belum menutup sempurna ketika lahir. Akibatnya, ususnya keluar dari tempatnya. Ada kemungkinan kembali sendiri. Banyak testimoninya. Tetapi, secara medis, tidak ada jalan lain selain dibedah. Ah, bagai disambar ayam jago. Kaget dan lagi lagi cemas. Bagaimana mungkin anak sekecil ini dioperasi? Kulitnya saja masih berlipat-lipat dan sangat tipis. Bagaimana ini, Tuhan?

Hari hari saya jadi biru sejak saat itu. Maunya berbahagia, tetapi perasaan ini tidak bisa ditipu. Ya, Tuhan, sedihnya. Apalagi melihat anak yang begitu lucu dan polos mengejan gelisah, memerah, ah … ibu mana yang tahan.

Tapi apa yang harus saya pelajari dari sini? Saya tidak boleh hanya berpangku tangan. Artinya, bukan saya harus mencari cara bagaimana agar anak ini sembuh, tetapi saya tidak boleh membiarkan diri saya dikuasai kecemasan. Saya harus mencari tahu, apa sih maksud Tuhan dengan semua ini.

Suatu hari, saya dan suami harus ke rumah sakit untuk menengok anak teman kami yang demam. Sampai di rumah sakit, kami tertegun. Anak itu begitu manis dan banyak senyum, sekalipun kondisi badannya tidak baik. Ibunya bercerita bahwa sejak bayi kedua anaknya mengalami kelainan. Yang kecil ini, mengalami kelainan di jantungnya. Klep jantungnya tidak bisa menutup dengan sempurna. Akibatnya, acapkali dia menjadi biru dan kaku. Hal serupa juga terjadi pada kakaknya. Tetapi, mereka melewatinya. Ibu ini bilang, “Jika tidak demikian, bagaimana kita bisa bersaksi akan kebaikan Tuhan?”

Kalimat terakhir sebelum kami pamit itu terus membayangi. Terima kasih, Tuhan, Engkau berbicara pada kami melalui ibu ini. Biarlah hernia ini juga menjadi kesaksian akan kasih Tuhan pada Abraham Bintangku. Seperti namamu, Nak, berimanlah, Tabib yang Ajaib akan menyembuhkanmu. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s