Ibu

Standard

Pengalaman pertama menjadi ibu begitu menantang.

Pulang dari rumah sakit, selain gembira bin bahagia, yang saya rasakan adalah nyeri dan cemas. Kecemasan seperti ini belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ini berlangsung berhari-hari, saya tidak tahu apa penyebabnya. Orang bilang itu baby blues syndrome. Bisa jadi sih. Saya sendiri menganggapnya sebagai masa transisi perubahan peran dari hanya seorang istri menjadi seorang istri dan seorang ibu. Menjadi seorang ibu ternyata rasanya nano nano. Di satu sisi, kita ingin memberi yang terbaik, yang super baik, dari diri kita untuk anak kita. Di sisi lainnya, kelelahan dan kecemasan bahwa kita tidak bisa memberikan yang terbaik itu, membuat kita lemas. Buntutnya, kita menjadi cepat lelah. Jika kita lelah, kita tidak bisa merawat anak kita dengan sebaik-baiknya. Belum lagi, jika kita tinggal dengan banyak orang, suara yang berbeda-beda dari orang-orang tentang bagaimana merawat anak, akan membuat kita semakin pusing dan mual. Yeah. Satu orang mengatakan bahwa memandikan anak harus pagi-pagi, orang lainnya mengatakan jangan terlalu pagi karena anak akan kedinginan. Satu orang mengatakan jangan terlalu sering menggendong anak nanti manja, orang lain bilang sering-seringlah gendong anakmu supaya ikatan ibu-anak menjadi kuat. Bagaimana tidak pusing pala barbie? 

Hal-hal lain yang membuat cemas adalah kesehatan dan masa depan anak kita. Rasanya ingin memasukkan anak kita di kamar tertutup saja, supaya jika ada orang datang, anak ini tidak terkontaminasi udara ataupun bakteri yang mungkin dibawa dari luar. Lalu, orang bilang, jika anak tidur kita harus ikut tidur. Nah, masalahnya, jika anak tidur, pekerjaan kita banyak yang harus diselesaikan. Curi curi waktu. Belum jua kerjaan selesai, anak sudah bangun. Begitu seterusnya hingga saat malam tiba, kita tertidur pulas. Ketika anak terbangun malam hari, sulit setengah mati untuk kita juga ikut bangun. Belum lagi masalah masa depan. Semua ibu ingin anaknya menjadi yang terbaik. Sekalipun tak terucap, hal itu lazim adanya. Kita lalu mulai mengamat-amati anak kita, apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya jadi yang terbaik. Apakah kita bisa? Apakah kita sanggup? Bagaimana caranya, sedangkan kita nantinya akan bekerja fulltime di kantor. Haaaaaaaaahhhhhhhhhhhh …..

Belum lagi mengenai perubahan multidimensi dari peran seorang ibu. Pada saat ini, ketika pergi ke toko, tidak lagi saya terpikir untuk membeli sesuatu bagi diri saya. Apa yang anak saya butuhkan, itu yang saya lihat dan saya beli. Apalagi mengurusi badan. Awalnya, saya sangat takut karena berat badan saya belum turun maksimal setelah melahirkan. Ditambah, menyusui membuat payudara terlihat besar dan badan menggemuk. Baju-baju lama sudah tidak bisa dipakai lagi. Lalu, bagaimana dengan perawatan? Jangankan perawatan, memakai bedak pun rasanya sudah tidak menjadi hal penting. Saat berkaca, saya menemukan diri yang berbeda. Siapa wanita ini? Siapa yang membuatnya berubah begini.

Di dalam dinamika itu, setiap hari, saya berusaha banyak membaca, browsingsurfing, chatting dengan orang-orang yang sedang dalam posisi sama. Saya membaca banyak artikel, bertukar pikiran, merenung, membaca firman Tuhan, berdoa minta ampun karena terlalu cemas, dan begitu seterusnya. Tetapi, dalam proses itu, saya menemui bahwa saya menjadi semakin diperlengkapi. Jika ada orang bertanya tentang kesehatan atau perilaku bayi tertentu, saya rasanya bukan hanya bisa menjawab secara teori, tetapi saya pun bisa membagikan pengalaman saya. Saya menemukan begitu indah dan menantangnya peran seorang ibu.

Wanita ini berubah. Di dalam hatinya tumbuh sebenih cinta yang sanggup menghanguskan, bahkan menghanguskan egonya. Itulah cinta untuk buah hatinya. Itulah cinta yang selama ini saya dapati dari ibu saya. Cinta seorang ibu itu, sekarang sedang tumbuh dalam diri saya. Jika demikian, apa lagi yang harus saya cemaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s