kASIh …

Standard

Memberikan asi kepada anak kita yang masih bayi memang sebuah dilema besar, khususnya untuk para wanita karir yang bekerja full-time. Acapkali, semangat yang tinggi sebagai pejuang asi tidak disertai dengan fleksibilitas di tempat kerja yang memungkinkan para ibu memerah asi atau mengijinkan para ibu untuk menyusui bayinya di waktu-waktu tertentu. Puji syukur, saya bekerja di tempat yang atasannya sangat pengertian terhadap dinamika ibu meyusui. Meskipun demikian, dinamika ibu menyusui itu sendiri bagi saya adalah sebuah tantangan.

Beberapa waktu lagi saya harus meninggalkan anak saya selama empat hari karena ada pekerjaan di luar kota. Beberapa hari saya tidak bisa tidur memikirkan, at least kecukupan asi untuk anak saya (belum stress karena harus berjauhan, kangen, khawatir, dll). Tapi, semakin saya memikirkan keras, semakin produksi asi menurun tajam. Stres atau kebanyakan pikiran, bagi busui, adalah penyebab utama turunnya produksi asi. Sebenarnya, Tuhan sudah mendesain sistem dalam setiap diri wanita untuk bisa dan cukup dalam menyusui. Pertanyaannya, kenapa ada yang tidak bisa menyusui?

Alasan utamanya adalah karena asinya tidak mau keluar. Benar, ini terjadi juga pada saya dalam minggu-minggu awal menyusui. Sejak masih di rumah sakit, asi saya tidak mau keluar. Ditambah luka karena operasi cesar, perjuangan untuk mengeluarkan asi menjadi semakin menyakitkan. Puting lecet lecet sampai perih sekali. Jangankan diperah atau diminum bayi, kesenggol saja sakitnya bukan main. Itupun asi yang keluar hanya satu tetes. Sungguh terlalu. Pada titik ini, saya memahami sekali kenapa banyak wanita yang menyerah pada awal menyusui dan menganggap bahwa asinya tidak keluar. Hal ini berlangsung selama beberapa hari (mungkin sampai 2 minggu). Setiap kali tambah stres memikirkan kecukupan asi, asi justru tambah tidak keluar setetes pun. Setelah sharing dengan beberapa teman yang juga pejuang asi, serta membaca banyak literatur tentang asi, saya memutuskan untuk terus berjuang (Akhirnya saya mengetahui bahwa bayi yang baru lahir bisa tahan untuk tidak minum selama 3×24 jam, dan hanya minum 25 ml sampai usia 7-10 hari, lalu bertahap naik di hari-hari selanjutnya karena lambungnya yang masih kecil).

a5c0a724032f2314b55aa383da39dfad

Setiap hari saya mengumpulkan tetes demi tetes asi, menahan sakit perih ketika payudara disusu oleh si bayi, serta menyediakan waktu khusus di sela sela ngantuk dan letih untuk memerah asi dengan teratur. Puji Tuhan, pada minggu ke-3, asi saya sudah keluar meskipun belum deras. Saya kumpulkan dalam botol kaca, 10 ml tiap kali memerah. Minggu berikutnya naik menjadi 25 ml dan sampai usia 3 bulan ini, setiap perahan berkisar antara 75-150 ml. Kalau mengingat sakitnya waktu pertama kali berjuang, ah …. betapa bersyukurnya sekarang sudah lancar.

Alasan ke dua pada ibu menyusui berhenti ngasi adalah asinya hanya keluar selama 1, 2, 3, atau 4 bulan. Karena tidak percaya diri pada bulan-bulan berikutnya masih mampu menghasilkan asi yang cukup, maka banyak ibu-ibu yang terpaksa (atau dipaksa mertua, ibu, dsb) menggunakan susu formula juga. Saya juga sangat memahami hal ini. Sangat. Masuk usia 2 bulan, kami kembali dari rumah orang tua ke rumah kami sendiri di kota lain. Dengan intensitas pikiran yang lebih banyak dan sudah tidak ada lagi yang membantu mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti menyiapkan makanan, mencuci baju, dll, produksi asi saya menurun lagi. Drastis. Saya sangat sedih karena si bayi turut gelisah. Tetapi, saya paksa terus untuk menyusui, memerah dengan teratur (yang disebut power pumping-memerah setiap 2 jam sekali), makan sayuran dan buah, hingga produksi asi normal kembali.

Alasan lain menghentikan menyusui adalah karena kerja berat dan harus tugas ke luar kota. Ini pun saya alami. Dua minggu lagi saya harus tugas di luar kota selama 4 hari. Bagaimana ini? Kalau dihitung secara matematis, anak saya akan memerlukan 40 botol. Bagaimana ini? Bagaimana saya bisa mencukupi kebutuhannya dalam waktu kurang dari 2 minggu? Tapi saya ingat, prinsip lain memberikan asi adalah: semakin payudara kita dikosongi, semakin produksinya bertambah banyak. Maka, saya memerahnya lebih sering serta menyusukannya lebih giat. Memang sangat repot sih, setiap kali memerah, saya harus mencuci dan mensterilkan alat perah. Tetapi, setelah dilakukan dengan sering, akhirnya terbiasa dan bisa mengelola waktu lebih efektif.

Asi perahan yang disimpan di dalam botol kedap udara dan diberi label tanggal

Asi perahan saya yang disimpan di dalam botol kedap udara dan diberi label tanggal

Apalagi, riset menunjukkan bahwa asi perahan pun bisa disimpan selama 3-6 bulan asalkan dalam tempat steril dan dimasukkan ke freezer yang terpisah dengan lemari es.

Sebenarnya, sistem pemberian asi dalam diri kita sudah didesain untuk mengeluarkan asi sesuai dengan kebutuhan anak kita. Jadi, ibu-ibu menyusui, tidak perlu khawatir kalau anak kita akan kekurangan asi. Waktu dalam susah payah, saya selalu berdoa, “Bapa, Engkau lah Sang Perancang sistem asi dalam tubuhku ini. Engkau menciptakannya supaya anakku mendapat nutrisi yang terbaik yang sudah Engkau sediakan sendiri. Untuk itulah, aku percaya bahwa Engkaulah jua yang akan menolongku mengeluarkan sumber nurtrisi yang sudah Engkau rancang ini untuk pertumbuhan anakku. Dan nantinya, aku akan menceritakan keajaiban kASIh ini padanya.” Demikian doa saya, meminta kepada Sang Perancang sendiri untuk menolongku berjuang dalam menyusui ini, betapa pun sulitnya. Minggu lalu, genap 3 bulan anak saya minum asi eksklusif. Saya akan melanjutkan perjuangan kASIh ini 3 bulan lagi dengan tetap mengingat bahwa menyusui anak kita bukanlah pengorbanan, tetapi sebuah kesempatan dan kepercayaan.

(Dalam perjuangan asi itu, saya banyak sekali belajar, bertanya, berdiskusi, membaca, berkonsultasi, meneliti, sehingga rasanya sekarang banyak ilmu seputar asi yang saya dapat dan saya bisa bagikan. Terima kasih Tuhan).

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s