C Section (Cesar)

Standard

Jadi terinspirasi untuk menulis saat teman saya bertanya bagaimana sih proses operasi cesar itu.

 

Bagi sebagian orang, operasi cesar atau section caesarea atau c-section saat melahirkan adalah tantangan. Kata “Operasi” itu sendiri sudah mengisyaratkan adanya persentuhan alat tajam dengan tubuh kita. Hmmmm … sewaktu belajar mengenai kehamilan dan melahirkan di USA dulu, saya memahami metode cesar hanya sebagai alternatif yang jarang dipilih para ibu-ibu jika masih memungkinkan melahirkan dengan normal. Ada beberapa alternatif lain yang lebih sehat dan murah, seperti: hypnobirthing, bradly method, water delivery, Alexander method, dan tentunya natural or traditional method. Sayangnya, metode birth delivery ini belum begitu populer di Indonesia. Dengan demikian, jika proses melahirkan secara tradisional tidak dapat dilakukan, c-section segera muncul sebagai pilihannya. Di Indonesia, hingga tahun 2015 ini, jumlah kelahiran cesar pun terus mengalami peningkatan. Biasanya, operasi cesar dilakukan jika terjadi komplikasi medis, bayi tidak pada posisi yang tepat, bayi besar tapi panggul sempit, posisi placenta di bawah rahim, dan kondisi medis lainnya. Nah, saya akan menceritakan kenapa dan bagaimana saya melahirkan secara cesar ya.

 

Hingga bulan ke tujuh, suami dan saya masih sangat optimis kami bisa melahirkan secara normal. Setiap pagi saya jalan kaki pulang pergi ke pasar, makan sayur, minum air putih yang banyak, relaksasi, banyak membaca buku sehingga proses kelahiran normal nantinya berjalan dengan baik. Karena saya masih mengajar dan beberapa kali membawakan materi pelatihan, pada bulan ke -8, saya mengalami sedikit kecapean. Terjadilah di malam itu semacam kontraksi palsu yang diikuti sesak nafas tiada tara. Inilah asma yang sudah tiga tahun ini tidak pernah kambuh. Malam itu, suami dan saya tidak bisa tidur karena sesak nafas yang berkepanjangan itu. Paginya, kami konsultasi ke dokter dan langsung dirujuk ke poli paru-paru. Benar, astma saya kambuh.

 

Bahkan, sampai detik itu pun, saya tidak ingat kalau saya pernah punya riwayat astma. Dengan demikian, saya harus menjalani terapi melalui obat inhale yang dihirup serta tentunya diet makanan pemicu astma, seperti kacang-kacangan, coklat, susu, telur. Hiks  … sedihnya. Tetapi, demi melahirkan normal, saya melakukannya dengan taat.

 

Tetapi, memasuki usia 36 minggu, rasanya sesak nafas semakin sering datang mengganggu. Menurut dokter yang akan menangani kelahiran bayi saya, baiknya saya melahirkan secara cesar supaya tidak beresiko waktu kontraksi atau mengejan. Ternyata kontraksi bisa memicu munculnya astma. Suami dan saya dilema sekali saat itu. Impian kami untuk melahirkan normal harus batal (selain karena murah, melahirkan normal juga lebih sehat dari pada cesar kan). Dan demikianlah, kami berdoa dan memutuskan untuk menjalani proses lahiran secara operasi.

 

Pada konsultasi akhir sebelum operasi, dokter melihat posisi bayi, menghitung berat badan, serta mempertimbangkan usia. Jika semua sudah mencukupi, dokter bertanya kepada kami, kapan waktu yang diinginkan untuk melakukan operasi. Sebaiknya, jangan terlalu dekat dengan HPL, karena jika keduluan kontraksi, maka asmanya akan kambuh dan menganggu proses kelahiran jabang bayi. Berhubung HPL saya tanggal 20 Januari 2015, suami saya memilih 2 minggu sebelumnya, yakni 5 Januari 2015, hari Senin (5115). Setelah membuat janji dengan dokter, kami pulang dan mempersiapkan barang-barang untuk dibawa ke rumah sakit. Adapun barang-barang tersebut adalah: kartu-kartu (identitas, asuransi, kk), baju ganti ibu, alat mandi ibu, baju ganti dan peralatan mandi bayi, alat pencukur rambut vagina, snack, dan alat komunikasi.

 

Hari Minggu, sepulang dari gereja, suami dan saya menuju IGD Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten. Sementara para perawat melakukan pemeriksaan fisik dan darah pada saya, suami saya mendaftar serta mencari kamar rawat inap yang sesuai (sesuai budget maksudnya. hehehe …). Setelah mendapat kamar, kami berdua diantar menuju kamar lalu beberes barang-barang. Sore hari, dokter anestesi datang untuk memeriksa alergi serta pemeriksaan lainnya untuk mempersiapkan operasi. Perawat pun mengingatkan untuk tidak lupa mencukur rambut vagina karena nantinya akan dipasang kateter (alat bantu buang air kecil). Malam itu kami berdoa bersama mempersiapkan kelahiran jabang bayi esok pagi.

Malam menegangkan sebelum melahirkan

Malam menegangkan sebelum melahirkan

Pagi-pagi sekali, sekitar jam 5, para perawat sudah datang dan menyuruh saya membersihkan diri (mandi dan keramas), melakukan pengecekan darah, lalu memakaikan baju operasi beserta topinya. Dan, sampailah saya di sebuah ruang operasi yang, kali itu, terasa penuh sukacita dan semarak (entahlah …. hihihihi).

 

Setelah para perawat dan tiga dokter (dokter anak, dokter kandungan, dokter anestesi) berdoa bersama pasien dan keluarga yang menunggu (suami saya-sebagai sie dokumentasi-dan kakak ipar saya), operasi pun siap dilakukan. Tepat jam 10 pagi, operasi dimulai dengan menyuntikkan bius ke tulang belakang saya.

Di ruang operasi yang semarak membahana itu

Di ruang operasi yang semarak membahana itu

Sebenarnya saya bisa melihat dengan jelas proses operasinya meskipun bagian perut ke atas ditutup dengan tirai. Saya bisa melihatnya dari pantulan cermin lampu di atas saya. Tetapi, tentu saja saya memilih untuk memejamkan mata, senyam senyum sendiri, menyanyi memuji Tuhan, serta berdoa.

Amazing grace how sweet the sound …

That saved a wretched like me ….

Lantunan dua larik syair Amazing Grace mengiringi tangisan pertama putra saya, lima menit setelah operasi dimulai. Waoa … saya dan suami bertatapan seolah dunia berhenti berputar. Hihihihihihi … lalu kami menangis.

 

Sembari dokter membersihkan air ketuban, perawat melakukan perlekatan pertama (Inisiasi Menyusui Dini/ IMD) si bayi pada saya.

Inisiasi Menyusui Dini

Inisiasi Menyusui Dini

Setelah berhasil melakukan proses IMD–yakni membantu bayi mencari puting susu ibunya–dan setelah selesai dijahit (ternyata dilem euy, sehingga tidak perlu menunggu benang jahitan kering. Asik benar), kami dipindahkan ke ruang pemulihan. Di ruang pemulihan, keadaan bayi dan ibunya dicek kembali dan ditata sedemikian rupa untuk siap dikeluarkan dari ruang operasi.

Saya dan si pumpkin di ruang pemulihan ... ihhh gemesnya

Saya dan si pumpkin di ruang pemulihan … ihhh gemesnya

Setelah kurang lebih 15 menit di ruang pemulihan, kami diantar kembali ke ruang perawatan dan bertemu dengan keluarga yang bersuka cita. Saya masih bisa tertawa riang karena obat biusnya masih bekerja. Tetapi, 6 jam kemudian, obatnya sudah hilang dan rasa sakit yang sangat mulai datang. Di sinilah perjuangan menyusui dilakukan. Bagi ibu-ibu yang khawatir asinya belum keluar pada masa-masa ini, tenang saja, saya pun mengalaminya (blog saya berjudul kASIh). Tetap berdoa dan berjuang ya. Satu proses telah dilewati, yang lain menanti. Tetapi selama kita bergandengan tangan dengan Tuhan, semua akan indah.

 

Tiga hari saya dalam kesakitan pasca operasi sekaligus penantian asi yang belum keluar. Suakitnya sampai membuat saya berubah pikiran untuk melahirkan secara cesar (lah, kan sudah terlanjur? gimana sih? wkwkwkwk). Duduk sulit, jalan sakit, apalagi mengendong dedek bayi. Alamak. Tetapi, satu minggu kemudian. Teng tereeeeng. Saya sudah naik motor dan jalan jalan ke mana-mana.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s