Spontan Kakiku Bergoyang

Standard

Aku berdiri di kamar mandi, keramas, gosok giri, mandi … hampir selesai, aku baru menyadari sesuatu. Spontan kakiku bergoyang-goyang sendiri, seperti sedang menimang bayi.

 

Minggu ini adalah musim baru bagi keluarga kami. Pengasuh si baby sedang pulang kampung. Lumayan repot karena seluruh pekerjaan rumah, kantor, plus mengasuh si kecil harus kami lakukan berdua saja, aku dan suami.

Tetapi, meskipun terasa lebih capek, secara pikiran aku lebih lega karena mau tidak mau aku harus membawa si kecil ke manapun aku pergi. Jadi, aku selalu bisa mengawasinya.

Kami berterima kasih kepada “Embah”, pengasuh si kecil yang sudah rela meninggalkan keluarganya untuk membantuku merawat si bayi sejak usia 3 hingga 10 bulan ini. Dalam masa transisi (dari luar negri ke dalam negri, dari hamil menjadi ibu, dari Jawa Tengah pindah ke Jawa Timur, dari 3 months full time mother jadi everyday full time worker), keberadaan pengasuh sangat membantu kami.

Namun, sesungguhnya, sejak mengetahui bahwa aku hamil, Bulan Mei 2014 lalu, aku sudah berpikir untuk mengasuh anakku sendiri. Tidak pernah terlintas di benakku untuk meminta pertolongan babysitter atau pengasuh bayi. Lalu, apa sih yang membuatku kukuh untuk merawat anakku sendiri sementara aku dan suami bekerja penuh di sebuah universitas.

Pertama, aku secara khusus belajar mengenai perkembangan anak. Saat magang,  aku berkesempatan melihat banyak kasus anak yang attachment-nya renggang dengan orang tua. Di tempat magang dulu, di Amerika Serikat, anak-anak kecil dari usia 2-6 tahun dititipkan di sebuah penitipan anak dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore, sementara orang tuanya bekerja. Apa yang mereka pelajari di tempat itu? Mereka belajar berkompetisi, memperebutkan perhatian orang dewasa yang sangat mereka butuhkan pada usia itu, yang sayangnya hanya didapat dari segelintir pengasuh saja. Akibatnya, sebelum mereka belajar value/ moral dari orang tua, mereka sudah mengerti strategi memenangkan perhatian orang dewasa. Mereka mulai mengembangkan keahlian manipulasi tanpa disertai pemahaman etika dan moral yang-pada usia itu-hanya bisa mereka pahami dari orang dewasa. Usia dini seharusnya lebih banyak bersama orang dewasa agar terterpa stimuli serta pendidikan moral. Jika hal ini tidak mereka dapatkan dengan tepat, kita tidak bisa berharap anak-anak ini mengembangkan  attachment atau ikatan yang kuat dengan orang tua, taat, dan menghargai mereka.

Ke dua, aku sendiri adalah seorang pendidik. Aku merasa tertikam ketika menyadari di ruang ruang kelas dan seminar, aku berbicara tentang bagaimana mendidik anak, tetapi anakku sendiri kubiarkan 8 jam bersama orang lain. Bagi orang lain, mungkin hal ini terlalu idealis. Bagiku, dalam hal ini aku harus berpihak pada idealisme yang paling tinggi. Orang mau berkata apa, aku, sebagai pendidik memilih untuk melihat, mempelajari, dan mengabadikan setiap detik pertumbuhan dan perkembangan anakku sendiri yang tidak akan pernah terulang lagi.

Ke tiga, masa golden age (0-5 tahun) adalah masa pembentukan fisik, otak, dan value of life dari individu yang paling dasar. Meskipun di usia lain juga penting, tetapi di masa inilah peran orang tua mutlak dibutuhkan. Golden age yang terarah memang belum tentu jaminan bahwa anak akan sukses di kemudian hari. Tetapi, memberikan perhatian khusus pada masa ini adalah hak anak-anak kita. Mereka belum bisa memilih dan menuntut, kitalah yang harus menentukan. Di masa ini, komitmenku adalah merawatnya dengan tanganku sendiri, mulai dari yang masuk ke mulut, apalagi yang masuk ke pikiran dan hati. Di sinilah nilai-nilai dari sebuah keluarga ditanamkan. Pada periode inilah “kebenaran” seharusnya mulai ditebarkan.

Ke tiga, secara keamanan, mengasuh sendiri bayi kita adalah cara yang paling aman. Dengan berkembangnya kasus kekerasan terhadap anak saat ini, orang tua harus lebih waspada kepada siapa anak kita titipkan. Bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi nilai kehidupan yang setiap hari anak kita lihat dari pengasuhnya itu juga harus menjadi ukuran kemanan kita.

Yah, aku tahu, idealisme itu bukan tanpa tantangan. Apalagi buatku, full-time wife, full-time mom, full-time worker. Tantangan pertama adalah pekerjaan. Aku mengajar di sebuah universitas swasta. Waktu kerja 8 jam sehari pasti tidak bisa kupenuhi hanya dengan berada di kantor saja. Dalam 8 jam itu, anakku bisa tidur 2 kali. Sekali tidur bisa satu jam, lalu makan, pup, bermain. Total mungkin 3 jam. Jadi, waktu kerjaku di kantor hanya 5 jam. Lalu, bagaimana dengan sisanya? Syukur aku memiliki atasan yang sangat pengertian. Kami berdiskusi dan beliau dengan sangat terbuka menerima dan memberi masukan mengenai manajemen waktu kerja. Jika di kantor load kerja yang bisa kuselesaikan hanya 5 jam, maka sisanya akan aku kerjakan di rumah. Menurutku cukup fair. Sebenarnya, perusahaan/ instansi akan sangat diuntungkan dengan ibu yang membawa anaknya ke kantor. Para ibu akan lebih rileks dan santai karena selalu dapat mengawasi anak mereka. Dengan demikian, akan pegawai yang stress dan tertekan akan berkurang; tidak perlu ijin sakit, serta produkfitas semakin meningkat, perusahaan pun diuntungkan.

Tantangan selanjutnya adalah masalah waktu. Sampai usia 10 bulan, aku masih memberikan asi full untuk anakku. Full artinya tidak ditambah dengan susu formula. Memang berat sekali. Iya, berat sekali. Terkadang keluar, seringkali tidak. Kalau harus memompa/ memerah, itu membutuhkan waktu juga. Dan dengan segudang tanggung jawab ini, memompa akhirnya bukanlah prioritas.

Terakhir, fisik. Jujur, capek sekali bekerja 8 jam, membawa anak, masih pulang mengurus rumah tangga. Dalam hal ini, peran seorang suami sangat besar. Aku bersyukur tiada habisnya kepada Tuhan, Dia tempatkan suami yang benar-benar menolong setiap aspek kehidupanku yang sedang kompleks ini. Kami berbagi tugas dan mencoba menjalankan rutin yang sudah kami bangun ini dengan tanggung jawab. Jika dideskripsikan, kira-kira demikianlah rutin kami:

 

04.00  Abe bangun, ibu bangun

04.00-04.30 – Abe dan Ibu bermain di tempat tidur

04.30 – ayah bangun, mengajak Abe jalan-jalan

05.00-06.00 – Ibu masak makanan Abe dan ayah

06.00-06.30 – Ibu menyuapi Abe. Ayah cuci baju, piring, menyapu, mengepel, mandi

06.30-07.00 – Ayah memandikan dan menidurkan Abe, ibu0 menyiapkan bekal.

07.10 berangkat ke kantor

07.30-15.40 di kantor

16.00-16.30 Ibu suapin Abe, ayah persiapak mandi

16.30-17.00 Abe mandi

17.00-18.00 – Abe mainan

18.00 Abe tidur, ayah dan ibu makan, masak, beres-beres

20.30 tidur semua

Hosh. Itu hanyalah rutin-nya, belum kalau ada kegiatan yang mengharuskan kami pergi ke luar. Hosh. Abe anak baik, dia tidak begitu suka naik stroler. Dia sangat suka digendong. Dengan demikian,aku mengendongnya setiap waktu, menimangnya. Kadang kunyanyikan lagu lagu sekolah minggu kalau mau tidur, sambil ditimang ke kanan dan ke kiri. Begitu terus, setiap hari. Aku berdiri di kamar mandi, keramas, gosok giri, mandi … hampir selesai, aku baru menyadari sesuatu. Spontan kakiku bergoyang-goyang sendiri, seperti sedang menimang bayi.

 

Anak anak bukanlah alasan kita meninggalkan pekerjaan, mereka adalah semangat yang tak pernah padam.

 

 

 

 

 

One response »

  1. Satu kalimat yang terbesit di hati saat membaca artikel ini. “Luar biasa”. Karena apa yang terjadi sesungguhnya jauh lebih berat dari yang tertulis pada artikel ini. Dan saya mengetahui bagaimana padatnya aktifitas saudaraku ini. Sungguh bersyukur karena Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa buat kalian, kakak-kakakku.
    Tips ini sangat inspiratif dan memotivasiku. Suatu hari, saat aku sudah menikah dan memiliki bayi, hal ini pasti kualami. Aku berjanji akan menjadi orang tua hebat seperti kalian.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s