Setahun Kurang Sebulan

Standard

Memasuki Bulan Desember ini membuat dag dig dug. Saya teringat setahun yang lalu, saat perut masih besar, menanti kedatangan Si Bintang kecil tanpa tahu pasti kapan dia lahir. Setiap hari adalah kejutan. Saat ini, usianya sudah hampir satu tahun. Time flies. Don’t grow that fast, Sweetheart.

20151113_062754

Maen Aey (Bermain Air). Abe, 11 Bulan, sehabis dipotong bros oleh Ibu. November 2015

Di usianya yang ke 11 bulan ini, Si Bintang kecil bertambah aktif. Menurut teori child development, dia termasuk kategori difficult. (Hmmm… tentang hal ini kami sudah merasa sejak dia lahir sih. wkwkwk). Kategori easy adalah mereka yang dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan, bisa bermain sendiri tanpa diawasi, jarang ngambek, dan secara emosional stabil. Golongan difficult kebalikannya. Mereka sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan baru (butuh waktu), harus diawasi ekstra ketat saat bermain, tidak mudah ditinggal sendirian (mereka akan memanjat, merangkak, menjerit, mengerjar pengasuhnya), sering ngambek, moody, dan kurang stabil secara emosi. Tapi tenang, ini adalah karakter bayi, dengan treatment khusus, mereka akan belajar mengelola emosi mereka.

Sering orang mengatakan, “Halah, gampang itu mengurus bayi. Anakku kutinggal apa saja diam saja kok.” Saya sangat memahami hal ini. Bagi orang awam, karakter bayi digeneralisasi seperti bayi yang mereka tahu. Yang bayinya easy mereka cenderung menganggap bahwa semua bayi begitu. Sementara yang bayinya difficult, mereka akan bilang bahwa mengasuh bayi sangatlah sulit. Bagi saya, hal itu wajar, dan bayi dengan karakter apa pun, itu adalah anugerah. Karakter bayi sama sekali tidka berhubungan dengan kepintaran, kurangnya simulasi, atau pun attachment dengan orang tua. Bayi dengan karakter easy akan membuat orang tua mereka dimudahkan dan lebih maksimal merawatnya. Yang masuk kategori difficult akan mendorong orang tua lebih pintar dan kreatif.

Si Bintang Kecil, sebagai bayi dengan kategori difficult, sedang belajar mengembangkan kemampuan temper tantrum-nya. Dia sering menjerit-jerit, meronta-ronta, menangis saat keinginannya tidak dipenuhi, kecewa, tidak nyaman, atau bosan. Nah, para orang tua harus jeli mendeteksi hal ini dari dini dan mengambil langkah bijak. Kadang, saat mereka sedang belajar tantrum, orang tua yang sangat perhatian akan berupaya begitu rupa untuk membuat anaknya diam. Sesungguhnya, tantrum adalah aktivitas anak menyalurkan emosi mereka. Jika emosi ini sedari kecil sudah tidak tersalurkan, maka akan menumpuk dan jutru menjadi ledakan laten di kemudian hari. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Biarkan saja, peluk saja, jangan berkomunikasi yang berlebihan. Biasanya, kalau si baby sedang menejerit atau meronta, saya dekap saja, tatap matanya dengan senyum, lalu bilang, “Ibu tahu kamu kecewa. Tidak apa, belajarlah menerima itu, belajar bersyukur dan belajar mengerti kenapa hal itu tidak boleh.” Lalu kami berdoa bersama, “Tuhan Yesus, sumber dari segala kesabaran, ajari kami untuk sabar seperti Engkau sabar terhadap kami.” Hahaha … lebay ya. Iya. Tapi, ini adalah teachable moment yang sangat berdampak di kemudian hari. Nanti, jika si baby sudah capek, dia akan berhenti sendiri. Dengan demikian, dia belajar sedikit demi sedikit mengelola emosi. Skill yang sangat berfaedah di segala lini, yang hanya bisa dikembangkan dengan profesional oleh mereka yang tergolong bayi difficult. Syukur kepada Tuhan.

Di usia ini, Bintang kecilku sudah hampir berjalan. Dia berdiri beberapa detik, lalu jika sadar buru buru mencari pegangan. Hahaha …. lucu sekali. Dia sudah bisa sembunyi di bawah meja makan ataupun di dalam kulkas. Dia suka bermain air dan selalu memasukkan tangannya ke dalam gelas berisi air setiap kali kami memegang gelas di dekat dia.

Si Bintang kecil dengan kesadarannya tidak mau pipis di kasur lagi (kecuali sedang tidak sadar/ bobok. Itupun mungkin sebulan sekali). Jika kebelet pipis atau pup, dia akan turun kasur dan pipis di lantai. Anak pintar. Kami tengah mengajarinya pipis di toilet, meski belum sukses. Hahaha.  Secara motorik kasar, dia juga sudah bisa naik turun kursi pendek sendiri (kalau naik turun tempat tidur sudah sejak dua bulan lalu dia belajar). Lalu, dia juga mengembangkan kemampuan menghindar dari terbentur, meski sering kali masih jatuh jatuh tanpa sebab. Jika jatuh pun, sekarang dia sudah tidak menangis seperti dulu. Memang saat awal awal bayi belajar jatuh, dia akan menangis, tetapi kebanyakan bukan karena sakit, hanya kaget dan belum terbiasa mengendalikan diri. Jika berulang, mereka akan belajar bahwa jatuh atau terbentur adalah konsekuensi dari sebuah usaha, dan mereka menghargai itu dengan tidak menangis. Kebanyakan akan menertawai diri mereka sendiri, lalu mengusap usap bagian yang kena benturan. Tetapi, bagi orang tua harus tetap awas dan waspada, terutama jika benturan di bagian kepala. Sedialah krim untuk benturan, seperti trombopop atau lasonil.

Secara mototik halus, dia sudah dapat menggunakan jari jarinya (ibu jari dan jari telunjuk) dengan kreatif, misalnya untuk manggil burung atau cicak, menunjuk, memegang benda kecil, dan menjumput makanan sendiri. Hmmm … dia juga suka bertepuk tangan (meski tanpa alasan), dan melambaikan tangan (memanggil orang atau menandakan perpisahan. Kadang dengan tangan terkepal pula. Wew). Saya lupa mengajarinya kiss bye atau cium jauh. Jadi, dia belum bisa. Hmmm.

Sejak usianya masih 6 bulan, Si Bintang kecil sudah sangat cerewet. Di minggu ke tiga sejak usia sepuluh bulan, dia sudah mengoleksi beberapa kosakata, seperti: aey (menunjuk “air” minum, air mandi, air hujan, air galon, air kemasan, dan segala air di permukaan bumi. Haha), pampu (menunjuk “lampu” neon, lampu pohon natal, lampu lalu lintas, lampu mobil, dan segala lampu di dunia. hihihihi), abey (Menunjuk mainan favoritnya, yakni segala “kabel”), enana (menunjuk arah yang dia ingin tuju: “ke sana”), mimik, nenen, meme (kata lain dari mimik, juga digunakan sebagai sapaan kepada ibunya karena sebut “Ibu” sangat susah bagi dia. Hiks), maem (menunjuk segala makanan dan sebagai isyarat lapar), tata (sambil melambai, jika mau berpisah dengan seseorang). Dan yang paling jelas diucapkannya, dan diulang 100 x dalam sehari sambil menunjuk orang yang bersangkutan atau foto orang tersebut, adalah kata: Ayah. Hihihihihi. Saat melihat ayahnya, atau fotonya, dia akan memanggilnya minimal lima kali sambil ketawa tawa.

Oya, si kecil sangat dekat dan manja dengan ayahnya. Entah apa yang sudah kami lakukan, tetapi dia sulit berpisah dengan ayahnya. Setiap bangun dari tidur dan melihat ayahnya tidak ada (sedang nonton atau yang lainnya), dia akan menangis. Lalu, jika hal buruk terjadi padanya, misalnya digigit nyamuk, terbentur, jatuh, pokoknya hal hal yang berkaitan dengan keamanan dan perlindungan, dia akan segera mencari ayahnya. Bagian ibunya adalah menyusui dan membuatnya tenang. Hihihihihi. Hal ini sangat wajar mengingat seorang bayi/ anak laki laki akan selalu look up to their role model. Dan role model yang paling dekat dengan mereka adalah sosok ayah. Seorang anak perempuan akan mudah bertumbuh baik dengan ayah maupun ibu, tetapi seorang anak laki laki mutlak harus bertumbuh dengan sosok ayah atau pria dewasa sebagai role model mereka (suatu saat. semoga. ini bukan janji. saya akan tulis artikel tentang pertumbuhan dan perkembangan anak laki-laki ya. Menarik sekali).

Akhirnya, kami sangat bersyukur kepada Bapa Sang Pencipta untuk sebuah kesempatan, kepercayaan, dan kekayaan yang diberikan melalui kehadiran Bintang kecil ini. “Mampukan kami mendidiknya dalam roh dan kebenarnya, mengenalkannya pada kasihMu dan pribadiMu,” ini doa kami. Amin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s