Satu Tahun Enam Bulan

Standard

Setiap anak memiliki pertumbuhan dan perkembangannya sendiri …

Setiap anak itu unik …

Setiap orang tua pun juga unik …

Maka, tulisan ini adalah sebuah personal journey. Mungkin ada yang serupa, mungkin banyak pengalaman yang berbeda … tetapi di sinilah kita belajar bersama …

 

 

Sudah enam bulan ibu tidak menulis tentang Bintang kecilku. Sekarang usianya sudah 18 bulan atau 1.5 tahun. Kami sangat bersyukur bisa menyaksikan Bintang kecil bertumbuh dan berkembang. Dalam enam bulan terakhir, perkembangannya sungguh mengejutkan. Saya tidak dapat tidak merekamnya dalam catatan. Kelak, saya rindu Bintang kecil yang sudah dewasa membacanya, merenungkannya, dan semakin memahami siapa penciptanya yang agung itu.

Perkembangan motorik

Memasuki usia satu tahun (12 bulan) Bintang kecil sudah belajar berjalan. Tepat di usianya ke satu, Bintang kecil sudah melangkah 7 sampai 10 langkah. Dua minggu kemudian, langkahnya semakin banyak dan semakin cepat. Saya sempat khawatir, melihat dari kecil dia sangat aktif, kemungkinan waktu belajar berjalan dia akan sering jatuh dan suka jalan tanpa melihat depan. Tetapi, hal itu tidak terjadi sama sekali. Di masa awal pembelajaran berjalan, Bintang kecil jarang sekali jatuh. Dia cenderung berhati-hati meskipun langkahnya cepat dan banyak. Saya juga tidak mengalami dia berjalan tanpa melihat ke depan. Dia cukup memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya waktu itu (usia 1 tahun 2 minggu). Pada usia 13 bulan jalannya semakin cepat cenderung berlari. Di kompleks, di antara anak seusianya, Bintang kecil satu-satunya yang sudah bisa berjalan sementara yang lain masih merangkak, merambat, bahkan ada yang masih digendong. Namun, kondisi ini justru menuntut usaha yang lebih dari kami untuk membuatnya nyaman dengan lingkungannya. Dia mau bermain seperti apa yang dia mampu, tetapi lingkungannya belum mendukung. Jadi, sering dia “ngambek” tidak mau bermain dengan teman-teman karena tidak ada yang bisa diajaknya berlari atau jalan bersama.  Walhasil, kami cukup kewalahan memotivasinya untuk mau bermain dengan teman. Dia cenderung memilih bermain sendiri. Sedih.

Kebanyakan tetangga kami sangat takut anaknya jatuh, sehingga sangat hati-hati membiarkan anak belajar jalan. Akibatnya, anak pun jadi takut mengambil resiko dan lambat berjalan. Untungnya, kami cukup dekat dengan anak tetangga sehingga bisa memotivasi orang tua mereka agar mendorong anaknya belajar berjalan. Dua bulan kemudian, saat Bintangku berusia 15 bulan, teman-temannya pun sudah ada yang bisa berjalan. Mereka bermain bersama dengan senang setiap pagi dan sore hari.

Selain berjalan, Bintang kecilku juga mulai belajar gerak tubuh. Kalau sebelumnya dia hanya diam saat mendengar musik, di usia 1 tahun dia sudah senang bergerak, tepuk tangan, menggerak-gerakkan jarinya, pergelangan tangan diputar putar, menghentak-hentakkan kaki, geleng-geleng kepala. Gerakannya sangat lucu. Di usia 1 tahun kami mengenalkannya dengan alat music riil sehingga dia belajar mendengar suara yang diproduksi dari alat music itu. Dia belajar memetik senar gitar, ataupun memukul drum (kaleng cat bekas) dengan stik (kayu, pemukul glockenspiel, sikat gigi bekas). Meskipun dia belum bisa bertahan lama dengan permainan tertentu, alias cepat bosan, namun setiap hari paling tidak dia memainkannya. Mengenalkan music sejak dini sangat baik untuk merangsang kreativitas anak. Musik adalah sebuah bahasa. Jika anak belajar ini dari awal, dia akan peka terhadap banyak hal. Kami membiasakannya mendengar musik setiap hari, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Lagu-lagu anak anak selalu ada di mana-mana. Lagu dewasa yang sudah diseleksi pun menjadi pilihan yang tepat. Suatu hari dalam sebuah perjalanan, kami memutar lagu-lagu dewasa dari Casting Crowns. Setelah beberapa menit mendengar, si Bintang bilang, “Lagu laguku … butan ini.” Wkwkwkwk…. Dia protes, lagunya bukan yang sedang diputar ini. Akhirnya kami menggantinya dengan lagu sekolah minggu yang sudah diputar mungkin ribuan kali itu. Wkwkwkwk …

Kemampuan linguistik

Secara bahasa, sejak 1 tahun Bintangku sudah banyak bicara dan menirukan setiap kata-kata yang diucapkan oleh orang di dekatnya. Di usianya yang ke  14 bulan, Bintang kecilku sudah bisa merangkai dua kata bersama-sama, misalnya “Ibu Mima, Ayah Neny (denny), Yanti Yayuk (Yangti Yayuk), Kung Iyo (kakung bagio), Kung betjo (kakung bejo), uti mani (uti marni), om nani (om dani), dan tante ndina (tante dina). Wkwkwkwkwk …. Lucunya. Di usia 17 bulan, dia sudah bisa merangkai kata dalam kalimat, misalnya, “Ibu Mima, Dek Abe mau mimik.” Dia sudah mengerti banyak lagu dan setiap memegang gitar minta diiringi menyanyi. Tetapi, dia belum bisa utuh menyanyi hanya disebut kata-kata paling akhirnya saja. Misalnya, “cicak cicak di …..” dia menyahut, “di dindin.” “Diam diam ….” Dia menyahut “eyayap” dan seterusnya. Hihihihihihi.

Dia sudah mengenal warna hijau, biru, putih, meah jambu (merah jambu), meah (merah), uning (kuning), cukat (coklat). Ibu membuatkannya cat air dari pewarna makanan, baking soda, dan tepung maisena. Dia belajar warna dari situ. Selain itu, dia juga suka memperhatikan lampu lampu yang ada di jalan dan menghafal warnanya meski sering keliru. Wkwkwkwk. Selain warna, Bintangku juga sudah fasih dengan nama anggota tubuh sejak usia 1 tahun. Dia sudah bisa menyebut dan memegang rambut, telinga, hidung, mata, alis, pipi, mulut, gigi, tangan, perut, lutut, kaki. Dan, memasukkan jarinya di hidung (alias ngupil) menjadi hobi barunya di usia 17 bulan. Hihihihihihi.

Karena dia suka membaca buku, maka dia sudah hafal nama nama binatang di usia 12 bulan. Di usianya ke 17 bulan, makin banyak hewan yang dia hafal karena ayahnya mengajaknya melihat Nat Geo Wild (setelah itu ibu larang karena banyak adegan mangsa memangsa yang cukup ngeri). Selain gajah, kuda, kelinci, kucing, ayam, tikus, tupai, burung hantu, elang, katak, sapi, domba, ikan, hiu, lumba-lumba, kura kura, anjing, singa, jerapah, harimau, monyet, dia juga mengenal cheetah dan orang utan. Setiap hari, sedikitnya 3 buku minta dibacakan. Sekarang, di usianya ke 17 bulan, dia sudah mulai bosan dengan buku-buku yang ada di rumah. Tampaknya ibu harus segera mencari rongsok buku baru yang bagus. Wkwkwkwkwk ….

Sosial-emosional

Ibu tidak ingin Bintang kecil bisa melakukan sopan santun tanpa tahu artinya. Jadi, seringkali ibu menjadi sangat rempong memberi tahu si Bintang apa artinya salim, berpamitan, “daaag….daaag”, kiss bye, “permisi,” “tolong,” dan lainnya. Dia sudah bisa mengucapkan dan sangat terbiasa. Tapi untuk mengerti maknanya, itu adalah perjuangan seumur hidup. Hehehehe ….

Tantrum. Hmmmm … di usia 17 bulan, sudah kelihatan dia mulai mengekspresikan emosinya agak berlebihan. Dia sudah bisa “ngambek” jika keinginannya tidak dituruti. Biasanya dia tidak mau digendong lalu duduk di lantai dan merengek-rengek. Kalau keinginannya itu sesuatu yang sangat ia dambakan saat itu juga (misalnya pengen es krim yang ada di freezer), dia akan tidak peduli dengan perkataan ibu atau ayah dan tetap berlari menuju kulkas untuk mencari es krim yand didambanya. Untuk kasus ini, ayah dan ibu bersepakat untuk “diam seribu bahasa alias jadi patung” saat dia mulai menuju ke tantrum. Pengabaian ini bukan tanpa tujuan. Pertama, anak akan belajar bahwa caranya meminta dengan merengek-rengek itu tidak akan mempan dan dia tidak akan mengulanginya lagi. Ke dua, dengan membiarkan anak menangis (mungkin bergulung-gulung), kita memberi kesempatan dia untuk melatih mengekspresikan emosi dengan sehat. Lama-lama dia akan tahu bagaimana mengekspresikan emosi yang bisa didengar orang tua. Jadi, saat anak kita tantrum, jangan panic. Stay cool, pura pura jadi patung, jangan berekspresi apa-apa, berikan kesempatan dia untuk menangis. Jika sudah selesai dan anak siap mendengar kita, kita peluk dia, kita ajak bicara mengapa kita berbuat demikian. Proses ini jika dilakukan terus menerus dengan tekun dan berulang-ulang akan membentuk sebuah bahasa yang anak-anak akan pahami sebagai bahasa “kasih namun adil” di kemudian hari. Bahasa inilah yang akan menolong anak kita mengembangkan karakter yang sehat dan relasi yang kuat dengan orang tua. Kalau tantrumnya di mall bagaimana? Bintang kecilku juga pernah. Karena di mall, dan karakter si Bintang ini strong will-child, kalau kami pura-pura jadi patung, dia akan melakukan sendiri apa yang dia mau. Maka, kami mengendongnya dengan muka datar dan tanpa suara ataupun komentar, membawanya keluar dari mall dengan sangat tenang, meski pun dia meronta-ronta. Sampai di mobil, baru kami biarkan dia mengekspresikan emosinya hingga lelah. Lalu dia datang pada ibu, minta dipeluk. Saat itulah datang teachable moment, sebuah momen untuk mengajarnya apa arti menahan diri, bersabar, dan meminta dengan benar. Huffftttt … sungguh tidak mudah.

Hubungan dengan orang lain?. Dia suka menyapa orang-orang yang dia temui meski belum terlalu akrab dengan mereka. DIa tahu kalau pria yang sudah tua dipanggil “kakung” atau “Mbah”, anak kecil cewek yang lebih besar dari dia dipanggil “kakak”, kalau cowok dipanggil “Mas atau kakak atau koko.” Kalau bayi, dia panggil “adek atau bebi.” Tukang air, tukang bakso, tukang sampah, satpam, semua juga dipanggilnya kalau lewat depan rumah. Namun begitu, bintang kecil bukan termasuk anak yang mudah bermain dengan teman. Dia tidak suka kalau diganggu oleh teman lain saat bermain. Wkwkwkwkwk ….

Sejauh ini, Bintang kecilku belum pernah terlihat memukul temannya. Kami memang sangat ketat dengan gerakan memukul. Berulang kali kami ajarkan tentang betapa tidak baiknya kalau kita gunakan tangan untuk memukul atau kaki untuk menendang (selain bola). Lagu “tanganku kerja buat Tuhan” menjadi media belajar yang sangat baik dalam hal ini. Meski tidak suka bermain dengan teman, Bintang kecil selalu ingin memeluk kalau ketemu temannya. Karena gerakannya belum terkoordinasi dengan sempurna, acapkali temannya yang mau dipeluk jadi takut. Hihihihihihihi. Akhirnya Si bintang menyerah deh.

Sensorik

Deskripsi sensorik kasar beberapa sudah diungkapkan simultan di dalam bagian sebelumnya. Saat ini Bintang kecilku sudah memegang sendok sendiri dengan jempol, jari tengah dan jari telunjuk. Dia juga belajar melukis (abal-abal) dengan cara yang sama seperti memegang pensil warna. Dia menjumput meses, beras, nasi, lauk, maupun membuka lembaran dengan cukup handal. Wkwkwkwk … meski belepotan. Setelah tidak menggunakan softbook lagi, dia belajar membuka buku dengan hati hati agar tidak sobek. Meski sudah ada dua buku yang sobek 1 halaman, dibanding dengan seluruh koleksi bukunya yang masih aman, ibu cukup apresiasi dengan kemampuannya mengendalikan diri untuk tidak merobek bukunya.

 

Satu lagi kabar bahagia. Bintang kecil memakai diapers sejak usia 4 bulan (waktu tidur atau bepergian saja). Di usia 1 tahun, kami mencoba potty training (latihan pipis di kamar mandi tanpa diapers). Beberapa minggu berhasil, beberapa minggu gagal. Masuk usia 16 bulan, kami sudah tidak memberi diapers sama sekali. Bintang kecil sudah melepas diapersnya. Saat usia 17 bulan ini, dia sudah bisa pipis dengan teratur. Meski sempat mengompol karena kami terlambat membawanya ke kamar mandi, tapi dia sudah bisa mengontrol waktu pipisnya. Huh hah … latihan ini cukup keras dan memakan waktu serta tenaga. Tetapi, hasil tidak akan mengkhianati proses. Yuhuuuu …. bye bye diapers …

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s