Umurnya Berapa, Dek? “Dua Tawun”

Standard

5 Januari 2017, tepat dua tahun engkau menatap bintang malam dan menyambut mentari bersama kami, Bintang kecilku. Malam ini, Ibu merenungkan keberadaanmu yang begitu indah. Ibu bersyukur, meski kepayahan membawamu ke sana dan ke sini, tak satu hari pun kita terpisahkan. Ibu dan Ayah terus bisa menikmati pertumbuhan dan perkembanganmu yang dahsyat dan ajaib. Walaupun sejujurnya, Ibu merasa sangat kurang memperhatikanmu karena Ibu harus bekerja. Maafkan Ibu. Pada suatu ketika, Ibu merasa berada di persimpangan. Tetapi, dalam doa dan pergumulan, Ibu tahu bahwa kita bertiga harus berada di koridor panggilan ini dengan tetap 100% mengerjakannya dan 100% juga memperhatikanmu, Bintangku. Jadi, meski kepayahan, Ibu ditolong Tuhan untuk berpartner bersama ayahmu, melalui masa-masa yang tak terbayangkan ini sehingga dalam kerapuhan, kami tetap dapat memelukmu, menggendongmu, dan menjawab tanya-tanyamu yang lugu.

Ini adalah catatan yang Ibu buat sebagai monumen untukmu, menjadi tanda syukur kami atas dirimu di usiamu yang ke 2 tahun ini.

Tanpa Pengasuh

Memasuki usiamu yang ke dua, lagi-lagi, kita melaluinya tanpa pengasuh di rumah. Kita. Hanya bertiga. Sangat rempong. Tetapi lega dan sejahtera. Bagi Ibu, di usia yang seperti ini, yang paling penting buatmu adalah mengenal nilai-nilai hidup yang kelak akan kau yakini menjadi pelita penuntun langkah. Tidak ada hal lain yang dapat menggantikan momen di mana bibit nilai itu kami semai dalam dirimu yang kecil sehingga kelak kau dapat memaknainya dan menikmatinya dengan kasih karunia. Ijinkan kami melakukan tugas utama kami, Nak, yakni, menuliskannya pada dahimu, mengikatnya di pergelangan tanganmu, menceritakan kepadamu siang dan malam, duduk atau bangun.

Memang ada konsekuensinya jika pilihan tanpa pengasuh diambil oleh Ibu pekerja seperti ibumu ini. Di mana Ibu akan menitipkan permata hati yang tak ternilai harganya ini ketika Ibu mengajar? Ayah dan Ibu tidak sanggup memikirkannya. Namun, Bapa tahu yang terbaik, Nak. Dia mengeringkan sungai yang dalam untuk kita seberangi. Bahkan saat berjalan di padang gurun tandus pun, Dia buatkan sungai. Child care ini adalah anugerah Tuhan agar Ibu bisa membawamu ke rumahNya setiap hari dan tetap bisa mengawasimu sementara kita menanti rencana Tuhan selanjutnya. Puji Syukur.

Pisah Susu – Weaning with Grace

Mengalami sesuatu yang menyakitkan itu ternyata ada levelnya. Dan seumpama kripik pedas mai**, ini mungkin level 8. Di postingan awal saya mengisahkan betapa ibu asi perantau yang bekerja full time harus melewati perjuangan yang berat untuk dapat memberikan kASIh nya bagi buah hati.

Enam bulan asi eksklusif sudah berlalu

Satu tahun asi dan mpasi sudah dijalani

Dua tahun sudah kita menikmati anugerah Tuhan atas ASI

Sekarang, Bintangku harus berpisah dengan ASInya. Itu sungguh tidak mudah bagi ke duanya. Mengenai bagaimana proses penyapihan yang detil akan Ibu ceritakan di bagian lain. Yang jelas, kalau orang kebanyakan menyebut proses menyapih ini dengan Weaning with Love, Ayah dan Ibu menyebut proses ini sebagai Weaning with Grace. Benar-benar anugerah Tuhan kita bisa melalui proses menyakitkan ini. Selain itu, peran ayah yang sanggup sedia menjadi subtitute Ibu di saat-saat sulit bagi anak juga sangat menentukan berhasilnya proses WWG ini. Persiapan yang matang melalui dongeng setiap malam, sejak tiga bulan lalu pun, menolong kami untuk menjelaskan kepadamu bahwa jika kamu semakin besar, kami memerlukan gizi lebih dari yang bisa didapat dari ASI. Akhirnya, memasuki 24 bulan, selama tiga hari yang kelabu itu, ASI terpisah darimu. Katamu, “Nenennya sudah tidak cocok lagi buat Abe.” Tetapi, biarlah yang sudah mengalir selama 24 bulan itu menjadi pokok syukur kita.

“Tadi Aku Dorong-Dorong Temanku”

Di usia sangat dini, anak sangat mudah meniru. Sejak bayi, Abe tidak pernah menggunakan tangannya untuk menepuk muka orang lain atau Bahasa Jawa-nya plak plek. Kami sangat berhati-hati dengan hal tersebut. Tetapi, sejak dua bulan lalu, Abe suka dorong-dorong temannya. Saya menjadi sangat sedih mengapa hal itu bisa terjadi, padahal kami tidak pernah mengajarinya. Lingkungan di sekitar kami pun sangat santun. Saya baru ingat bahwa anak usia dua tahun sangat cepat merekam segala kejadian di sekitarnya. Suatu hari, teman kantor saya cerita, “Tadi Abe dipukul sama temannya waktu mau pinjam mainannya.” Teman Abe itu lebih besar, selisih beberapa bulan. Saat mereka bermain bersama, teman Abe ini memukul Abe dengan lego miliknya. Abe menangis, kata teman saya. Di tempat lain, Abe pernah dipukul juga oleh teman yang lain dan tidak ada yang membela. Jujur saja, saya dan suami masih sangat kaget sehingga blank, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Sehingga, alih-alih membelanya, kami pun justru termangu bingung. Rekaman-rekaman ini ternyata disimpan kuat-kuat olehnya.

Suatu hari, sepulang dari gereja, dia bilang, “Ibu, tadi aku dorong-dorong temanku.” Dan, di kesempatan lain, dalam pertemuan keluarga, dia melaporkan dengan jujur, “Ibu, tadi aku pukul kakak sampai jatuh.” Ibu sangat berharap bisa memahamimu lebih dalam dan kita sama-sama keluar dari masa ini dengan bijaksana ya, Nak. Maafkan Ibu jika terkadang Ibu tidak paham, justru memberi nasihat yang berlebihan dan menekanmu. Setelah banyak mendengar pengalaman Yangti dan sharing dengan suami dan teman-teman, kami memutuskan untuk melakukan terapi pada Bintang kecilku setiap saat, yakni terapi cinta kasih, kesabaran, keadilan, dan kelemahlembutan.

“Ini Hari Sabtu, Ibuk”

Sebelum masuk usia dua tahun, kami tidak memperbolehkan Bintang kecil melihat tontonan melalui layar (komputer, laptop, hp, TV), kecuali kalau sedang ikut Ibu ke kampus dia bisa lihat komputer 15 menit (yang ini pasti tak terhindarkan. wkwkwkwk) atau DVD Noody. Tetapi, masuk usia dua tahun ini, dia sudah boleh melihat lagu-lagu berlatar kartun warna warni di komputer atau DVD. Kami tidak menggunakan handphone atau tablet untuk Bintang kecil karena bagi kami kedua gadget itu sangat interaktif, bahkan untuk anak kecil. Kurangnya supervisi, nantinya akan menyebabkan ketergantungan anak terhadap gadget. Jadi, sementara ini, laptop dan DVD (kontrol ada di ayah atau ibu) kami pandang yang paling baik sebagai awal literasinya. Ayah dan Ibu bersepakat untuk membuat aturan atas hal ini. Kami bilang, “Dek, boleh lihat lagu-lagunya di laptop hanya hari Sabtu saja ya.” Sejak saat itu, setiap sabtu pagi, dia boleh melihat lagu-lagu di laptop. Anehnya, meskipun kami tidak pernah bilang, dia selalu ingat yang mana hari Sabtu itu. Hihihihihihihi. “Ayah, ini hari Sabtu, Abe maw liat Hikolidok.” Kami pun terkekeh.

Menyanyi, Meski tanpa Nada

Saya sangat menikmati musik. Betapa saya mencintai nada-nada yang membentuk melodi yang unik, yang meliuk-liuk, memamerkan proporsisi mayor dan minor yang pas untuk disantap telinga. Suami saya penikmat musik yang sama dengan saya. Selera musik kami sama sedari muda. Bintang kecilku juga suka bernyanyi, dia sudah menghafal beberapa lagu, seperti: Cicak-Cicak di Dinding, Burung Kutilang, Menanam Jagung, Balonku, Bangun Tidur, Abang Tukang Bakso, bahkan Amazing Grace, dan beberapa lagu lain. Tapi, setiap kali bernyanyi, tidak ada nadanya, datar, semua do. Hihihihihihihihi. Suami saya bilang, “Anak temanku kok sudah bisa bernyanyi dengan nada yang benar di usia 2 tahun ya?” Hihihihihihihi. Who knows.

Aktifnya hiper, Bukan Hiperaktif ya, Ibu Ibu

Setiap kali ketemu dengan teman-teman kami yang sebaya, mereka selalu menceritakan kepayahan mengasuh anak mereka yang sangat aktif. Kata mereka, aktifnya lebih dari yang lain, naik-naik, loncat-loncat, tidak bisa diam. Namun, setiap kali saya bawa si bintang kecil bermain dengan anak mereka, mereka baru sadar bahwa ternyata anak-anak mereka jauh lebih anteng. Minggu lalu, dia perosotan di kolam renang, naik sendiri di perosotan yang tinggi, lalu meluncur. Tentu saja ada ayahnya di bawah seluncuran itu, tetapi, bah kalian tidak memikirkan hati ibu yang sangat dag dig dug ini. Hihihihihihihi.

Si Lekoh

Eating management yang bagaimana pun rasanya tidak berlaku bagi Bintangku. Puji Syukur Tuhan merancang dia menjadi anak yang siap dibawa ke sana ke sini oleh orang tuanya, jadi urusan makan adalah urusan yang sangat mudah. Ibu mengikuti pola pemberian mpasi dari mulai satu rasa, tiga rasa, hingga tanpa gula garam. Ternyata hal itu cukup berhasil. Bintang kecil bisa makan apa pun (kecuali yang susah dikunyah atau ditelan dan dalam mood yang normal mode wkwkwk), kapan pun, seberapa pun disediakan. Tinggal mengatur waktunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di mana kami tengah berada (maklum, nomaden).

“Toliet Ibu, bukan Toilet”

Sejak usia 1 tahun, Bintang kecil sudah pipis di toilet tanpa pampers. Ini sebuah kebanggaan, tetapi bagi kami ternyata juga sebuah teka teki baru. Di suatu malam, di tempat parkir sebuah pertokoan, Bintangku minta pipis. “Ibu, mau pipis di toliet.” Karena tengak tengok tidak ada toilet dan ayah-ibu malas untuk masuk lagi ke pertokoan yang sangat besar itu, akhirnya kami jawab, “Di sini tidak ada toilet, Nak. Nanti ya kita cari dulu.” Si Bintang dengan gemas menimpali, “Toliet, Ibu, bukan toilet.”

Lalu, sampailah kami di pinggir selokan. Ayahnya turun menggendong dia untuk pipis di situ. Lagi-lagi dia bilang, “Pipisnya di toliet, Ibu. Bukan di cini.” Ayahnya menimpali, “TOilet, Nak, bukan toliet.” Dan dengan penuh percaya diri dia jawab, “Toliet ayah, bukan toilet.” Tawa kami tidak berhenti sampai di rumah.

“Saat dia tampak begitu membuat payah dan susah karena kelakuannya yang sangat aktif itu, saat dia pukul temannya, saat dia merebut mainan temannya, atau sama sekali tidak mendengar instruksi darimu, janganlah berpikir bahwa dia berubah menjadi nakal. Ingatlah segala pencapaiannya yang super, dan tangan yang selalu terlipat dengan bibir komat kamit sebelum makan, dia hanya sedang berproses. Dampingilah dengan bijaksana. Mintalah hikmat pada Penciptanya” (Buk Mima, 2017).

 

Read the rest of this entry

Finding Diamond Inside Your Child in The Digital Era

Standard

Oleh: Kartika Primasanti

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Kristen Petra Surabaya

 

Dibawakan dalam Seminar Comminact 2016

Grand City Mall, Surabaya, 9 September 2016

 

Menemukan sebuah permata bukanlah sebuah perjalanan singkat. Dimulai dari menyelidiki, menggali, mengasah, hingga menikmati kilaunya. Prinsip ini pun berlaku ketika kita mendidik anak kita. Saya menanyakan kepada beberapa orang dalam banyak kesempatan saya memberi seminar pendidikan atau dalam perkuliahan di FKIP UK Petra, “Bagi Anda, pekerjaan mendidik anak itu pengorbanan atau investasi?” Sebagian menjawab “pengorbanan” sebagian lagi menjawab “Investasi.” Bagi saya, kedua jawaban ini tidak ada yang keliru, namun, kita perlu kritisi bahwasanya akhir dari dua tujuan ini adalah kepentingan orang tua atau pendidik. Bagi saya, mendidik anak adalah sebuah “privilege” atau hak istimewa. Dengan memahami hal ini, kita tidak akan mudah kecewa karena menganggap mendidik anak itu pengorbanan, atau kecewa karena investasi kita ternyata tidak berbuah. Namun, kita akan merasa terhormat untuk mengemban sebuah “hak istimewa”, yakkni membesarkan atau mendidik seseorang yang nantinya berpotensi untuk memberi dampak positif bagi masyarakat. Memahami privilege sebagai pendidik, inilah prinsip pertama dalam perjalanan menemukan permata yang berharga dalam diri anak atau anak didik kita.

Kejutan bagi para orang tua dan pendidik yang tengah mengerjakan hak istimewa pada masa sekarang adalah bahwa bombardir gadget dengan social media di dalamnya mengantar kita bergulir ke masa baru cutting edge of technology. Jika dulu pensil dan kertas menjadi teknologi mutakhir, maka saat muncul mesin cetak, mereka tidak berdaya lagi. Sayangnya, ketika ponsel pintar membumi, mesin cetak pun harus rela ditinggalkan banyak orang. Saat ini, percepatan dan keluasan komunikasi karena perkembangan teknologi sungguh membuat orang tua harus berpikir keras bagaimana “mengamankan” generasi ke depan dari bahaya gadget. Tetapi, benarkah bahwa kita harus “mengamankan” mereka?

Saya setuju dengan pernyataan Howard Gardner bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda baik dalam ragam dan levelnya. Dan mengenali kecerdasan setiap anak yang unik ini menjadi prinsip yang ke dua untuk mendidik anak di masa digital ini. Ada anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal, interpersonal, verbal, logika, mengamati alam, musik, gerak, maupun visual. Pada masa lalu, beragam kecerdasan ini tidak terekspose salah satunya karena tidak ada tools yang mendukung. Di titik inilah media digital menjadi penting untuk “dilirik” dan dipelajari para orang tua dan pendidik demi keberhasilan anak dalam menjalani proses kehidupannya.

Professor Anna Craft dari University of Exter dan The Open University, UK, mengatakan bahwa ada dua pandangan mengenai anak dan media digital. Pertama, pandangan bahwa anak itu beresiko atau at risk children yakni mereka yang menganggap dunia digital ini hanya membahayakan bagi anak. Beberapa hasil riset yang saya cata menunjukkan bahwa interaksi anak dengan gadget menyebabkan anak asosial, budi pekerti tidak berkembang, kecanduan, bermasalah pada kesehatan, tidak produktif, sensorik dan motoric tidak berkembang, memori jangka panjang yang buruk, sulit konsentrasi, serta tidak mampu berpikir. Di dalam pandangan at risk children ini, terdapat dua kategori, yakni: beresiko dan sangat beresiko. Yang masuk dalam kategori anak beresiko adalah mereka yang memiliki akses yang baik terhadap media namun literasinya rendah. Sedangkan anak yang dikategorikan sangat beresiko adalah mereka yang baik akses terhadap media dan literasinya sama-sama rendah. Artinya, jika dunia sudah berlari dengan media digital yang ada di sekitarnya, anak-anak pada kategori sangat beresiko ini masih merangkak dan berpotensi untuk jauh tertinggal. Pandangan kedua, yakni memandang anak sebagai pihak yang “berdaya” atau empowered. Dengan adanya media digital, orang-orang dengan pandangan ini menganggap bahwa anak-anak akan menjadi jauh lebih berdaya. Mereka seperti mendapat perpanjangan tangan dan kaki untuk mengekspresikan kecerdasan mereka yang menurut Howard Gardner adalah kecerdasan majemuk itu. Pandangan ini pun melahirkan dua kategori, yakni: anak-anak yang sedikit berdaya dan sangat berdaya. Anak-anak yang dikatakan sedikit berdaya adalah mereka yang kemampuan literasi media-nya tinggi, tetapi akses mereka terhadap media rendah. Sedangkan kelompok anak yang dikatakan benar-benar berdaya adalah mereka yang akses terhadap medianya tinggi dan literasinya pun mengikuti. Misalnya, anak-anak yang memiliki gadget dengan orang tua yang sangat memperhatikan dan disiplin terhadap penggunaannya, serta memiliki wawasan yang luas mengenai dampak gadget sehingga dapat mengontrol penggunaan gadget tersebut.

Dua pendekatan ini memberi gambaran bahwa sesungguhnya di era gadget ini, anak-anak pun tetap bisa berdaya dengan cara yang unik. Justru, dengan pendekatan yang tepat, mereka bisa mengekspresikan kecerdasan majemuk mereka dengan jauh lebih mudah dari pada era sebelumnya. Melalui dua pendekatan ini, orang tua dan pendidik hendaknya dapat melakukan evaluasi terhadap masing-masing anak yang dididiknya, di manakah posisi mereka. Dengan demikian, kita bisa menentukan pendekatan yang tepat untuk mendorong yang beresiko menjadi berdaya.

Lalu, apa saja bentuk “keberdayaan” anak-anak di era digital media ini? Riset-riset yang sudah ada menunjukkan bahwa kemampuan kolaborasi, menciptakan informasi, dan berjejaring adalah karakter skill yang menonjol dari anak-anak yang lahir di era digital. Kemampuan kolaborasi diperoleh dari pengalaman dalam dunia digital yang merupakan integrasi dari berbagai jenis konten informasi, pemain (agen), fitur, serta dekorasi. Anak-anak yang terbiasa mengintegrasikan semua elemen ini akan terampil dalam menyelesaikan masalah dengan kreatif karena idenya tidak hanya berasal dari satu sumber saja, melainkan hasil kolaborasi dari berbagai bidang pengetahuan. Kemampuan menciptakan informasi sebenarnya bukan hal baru, namun, di era digital ini, sekain menciptakan informasi, anak-anak juga mendapat kesempatan untuk mendiseminasikan informasi tersebut dengan kecepatan tinggi. Misalnya, membuat video yang di-upload di youtube dan dalam hitungan detik sudah ditonton oleh banyak mata. Akhirnya, kemampuan berjejaring membukakan pintu menuju desa global yang berpotensi untuk menjadi lahan sosial bagi anak di masa mendatang. Ketiga kemampuan ini, beserta kecerdasan majemuk dari anak-anak menjadi modal bagi mereka untuk berkontribusi bagi masyarakat global. Lalu, bagaimana peran kita sebagai orang tua dan pendidik dalam mewujudkan hal itu?

Pertama, orang tua dan para pendidik harus merangkul media digital. Di masa lalu, saat muncul mesin cetak, pasti ada juga banyak orang yang resisten terhadap keberadaannya. Sekarang, mesin cetak bukan hanya sudah akrab bagi orang-orang tetapi juga sudah mengalami perubahan ke bentuk yang jauh lebih canggil. Artinya, teknologi tidak dapat dihindari. Manusia harus merangkulnya dengan bijaksana. Ke dua, menjadi role model bagi anak-anak kita. Jika kita tidak ingin anak-anak menjadi at risk children maka kita sendiri yang harus menjadi model bagi mereka. Bagimana mereka bisa lepas dari gadget jika setiap hari melihat kedua orang tua atau guru-gurunya selalu memegang gadget seolah-olah tidak ada hal lain yang lebih penting dari gadgetnya. Ke tiga, terapkan aturan dan perjanjian untuk menggunakan gadget. Anak-anak di bawah 2 tahun, menurut penelitian, tidak diperbolehkan sama sekali terkena dampak langsung layar gadget. Selain merusak mata, hal itu juga mengganggu proses imajinatif serta perkembangan Bahasa yang sedang dalam pembentukannya. Untuk anak-anak usia sekolah dasar sebaiknya tidak memiliki gadget sendiri. Terapkan konsep “meminjam” gadget orang tua atau sekolah. Dengan mengetahui bahwa gadget itu bukan milik mereka, mereka akan lebih hati-hati dalam menggunakan. Selain itu, tentu harus dengan supervisi orang tua serta aturan memakai yang sudah disepakati bersama. Jangan berikan gadget agar anak-anak tenang saat makan di restoran. Ajak mereka bercengerama dan menikmati makanan bersama. Jika pun mereka harus memegang gadget, kita harus tahu tujuannya dan berapa lama.  Kita harus menempatkan diri sangat dekat dengan mereka saat mereka dekat dengan gadgetnya. Ke empat, tanamkan kepada anak konsep “menciptakan” bukan “mengkonsumsi”. Kebanyakan dari kita menggunakan gadget untuk mendapatkan informasi. Padahal, media digital menyediakan kesempatan seluas-luasnya untuk mengekspresikan karya kita. Dorong anak-anak untuk berlatih menciptakan sesuatu dari media digital. Misalnya meng-upload foto landscape yang mereka buat sendiri, membuat blog untuk menyimpan karya-karya mereka, dan lainnya. Ke lima, ajari anak-anak memahami bahwa di balik avatar, postingan, dan akun di media digital adalah orang-orang yang juga memerlukan perhatian dan kasih sayang. Media digital bukan benda mati, media ini dijalankan oleh orang-orang di balik layar. Maka, karakter dan perilaku kita di dunia digital tidak boleh berbeda dengan di dunia nyata. Bahkan aplikasi dan game pun diciptakan oleh orang, bukan? Tidak ada istilah anonymous. Hal ini mengajar anak kita untuk sensitif terhadap hubungan dengan orang lain dan mereduksi kecenderungan menjadi asosial ketika sudah sangat menikmati interaksi dengan gadget. Ke enam, ingatkan kepada anak-anak bahwa data yang kita share di media digital akan bertahan selamanya. Artinya, akan sangat sulit menghapusnya. Maka, sikap hati-hati dan bijaksana pun perlu dikedepankan.  Akhirnya, pastikan mereka memahami bahwa media digital hanyalah tools untuk mencapai tujuan hidup mereka. Anak-anak boleh menjadi bagian dari era digital, tetapi media digital bukan bagian dari diri mereka. Media digital adalah alat untuk membuat pekerjaan semakin efektif, sama seperti pisau, seterika, mobil, dan lainnya.

Dari pengalaman terjun di dunia media praktis dan akademis, serta studi dalam bidang anak usia dini, juga dari interaksi dengan mahasiswa di kelas Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UK Petra, saya belajar bahwa orang tua dan pendidik pun harus bersekolah untuk bisa mendidik anak dengan tepat di era digital ini. Bagi para calon guru di kelas-kelas saya, saya selalu menekankan bahwa peran mereka sangat vital untuk memfasilitasi generasi muda menemukan pijakan yang benar serta menjalankan peran mereka, berkontribusi membangun masyarakat global. Menemukan permata dalam diri anak kita di era digital ini adalah kolaborasi dari hak istimewa kita sebagai pendidik mereka, keunikan anak-anak yang telah dirancang oleh Sang Pencipta, pendekatan yang tepat, serta kelincahan media digital sebagai alatnya. Jika ke empat elemen ini berjalan dan berjalin dengan baik, kita tengah menggeser posisi anak-anak di era digital ini dari kelompok “berbahaya” menjadi “berdaya.”

 

Sekolah Rumah

Standard

Sebagai penggiat pendidikan, saya termasuk ibu pekerja yang mendukung konsep sekolah dari rumah. Maka, saya membuat rumah sedemikian rupa sehingga menyerupai tempat belajar bagi anak saya. Rumah bukan hanya berarti tempat tinggal, tetapi juga meliputi orang orang serta kegiatan yang dilakukan di dalamnya.

Pijatan Ibu yang Terbaik

2016-06-18-00-09-36_deco

Ayo belajar memijat sendiri

Ibu belajar memijat dari eyang putri yang sejak Bintang kecil lahir sudah dengan tekun memijatnya. Selain dari eyang putri, ibu melihat dari Youtube dan buku, berguru pada bidan desa, serta belajar dari rumah baby spa. Dengan segala ilmu itu, dari bayi Bintang kecil sudah terbiasa dipijat oleh ibunya sendiri. Mengapa memijat sendiri jauh lebih berdampak? Selain sentuhan yang semakin lekat dengan bayi, masa-masa dipijat adalah momen untuk menunjukkan bahasa kasih kepada anak kita. Masa mereka benar-benar menikmati sentuhan tangan kita. Dari pijatan itu, mereka memhami bahwa kita sangat mengasihi mereka dan peduli pada tubuh dan perasaan mereka. Ujungnya, attachment yang kuat, badan yang bugar, emosi yang sehat akan melekat pada anak dan orang tua.

Berenang sejak dini

Sesibuk apa pun, sebagai orang tua pekerja, upayakan punya waktu untuk mengajak si anak berenang. APakah kita harus bisa? Nope. Saya sama sekali tidak bisa berenang. Tetapi, berenang sangat bagus untuk melatih koordinasi tubuh anak. Saat berenang, semua organ bergerak. Itu menyehatkan.

 

Bermain Alat Musik

Entah nantinya anak kita menyukai atau berbakat di bidang musik atau tidak, musik adalah sebuah terapi. Ketika kita mengenalkannya dari dini, itu akan menolongnya mengembangkan sensitivitas, kreativitas, dan imajinasi.

Buku ya Buku

2016-06-18-00-02-04_deco

 

Setelah mempelajadi, mendiskusikan, dan meneliti selama beberapa tahun belakangan ini, saya menyimpulkan bahwa buku adalah terapi terbaik untuk menghindarkan anak dari pengaruh buruk gawai atau gadget. Banyak orang tua yang berkonsultasi pada saya bagaimana menyembuhkan anak anak dari kecanduan gadget. Selain serentetan tips yang menyesuaikan karakter anak, menyediakan buku sebagai alternatif bermain adalah jawabannya. Anak bisa suka membaca bukan karena bukunya bagus tetapi karena dia punya pengalaman yang indah saat membaca di tahun tahun pertama hidupnya.

Melukis-Mengenal Warna

Selain musik dan olah raga, aktivitas sensorik yang berkaitan dengan warna sangat baik untuk merangsang perkembangan kognisi dan imajinasi anak. Saya membuat bahan bahan mewarnai dari bahan makanan sehingga aman untuk anak. Lalu, agar anak tidak sembarangan mencorat coret tembok, saya menyediakan satu tembok khusus yang saya tempeli kertas manila putih (besar-bisa bekas kalender), sehingga anak belajar melukis atau menggambar di tempat yang tepat. Hal ini untuk mengajarkan disiplin kepada anak juga.

Barang Bekas

20160328_093643

Bermain mi sisa

Kami orang tua yang punya prinsip bahwa permainan yang baik adalah jika tidak ada permainan (jadi). Oleh kareanya, rumah kami dipenuhi dengan barang bekas seperti kaleng, kardus, kertas untuk menjadi inspirasi mainan bagi si kecil. Melihat barang-barang ini (warna warni kemasannya), si kecil tidak tahan untuk tidak mengambil dan mengkreasikannya sesuai imajinasinya. Itulah permainan yang sejati.

Binatang Favorit

Dari buku, si Bintang kecil tahu nama nama binatang. Yang menjadi favoritnya adalah kuda, sapi, dan gajah. Meskipun kami kurang setuju dengan konsep kebun binatang (yang mengurung hewan-hewannya di kandang), tapi, pelajaran ke kebun binatang menjadi pengalaman yang sangat baik bagi perkembangan literasi anak.

 

Sekolah adalah sarana untuk membantu orang tua mendidik anak, tetapi, pendidikan yang paling utama adalah DARI RUMAH. Cheers …

Satu Tahun Enam Bulan

Standard

Setiap anak memiliki pertumbuhan dan perkembangannya sendiri …

Setiap anak itu unik …

Setiap orang tua pun juga unik …

Maka, tulisan ini adalah sebuah personal journey. Mungkin ada yang serupa, mungkin banyak pengalaman yang berbeda … tetapi di sinilah kita belajar bersama …

 

 

Sudah enam bulan ibu tidak menulis tentang Bintang kecilku. Sekarang usianya sudah 18 bulan atau 1.5 tahun. Kami sangat bersyukur bisa menyaksikan Bintang kecil bertumbuh dan berkembang. Dalam enam bulan terakhir, perkembangannya sungguh mengejutkan. Saya tidak dapat tidak merekamnya dalam catatan. Kelak, saya rindu Bintang kecil yang sudah dewasa membacanya, merenungkannya, dan semakin memahami siapa penciptanya yang agung itu.

Perkembangan motorik

Memasuki usia satu tahun (12 bulan) Bintang kecil sudah belajar berjalan. Tepat di usianya ke satu, Bintang kecil sudah melangkah 7 sampai 10 langkah. Dua minggu kemudian, langkahnya semakin banyak dan semakin cepat. Saya sempat khawatir, melihat dari kecil dia sangat aktif, kemungkinan waktu belajar berjalan dia akan sering jatuh dan suka jalan tanpa melihat depan. Tetapi, hal itu tidak terjadi sama sekali. Di masa awal pembelajaran berjalan, Bintang kecil jarang sekali jatuh. Dia cenderung berhati-hati meskipun langkahnya cepat dan banyak. Saya juga tidak mengalami dia berjalan tanpa melihat ke depan. Dia cukup memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya waktu itu (usia 1 tahun 2 minggu). Pada usia 13 bulan jalannya semakin cepat cenderung berlari. Di kompleks, di antara anak seusianya, Bintang kecil satu-satunya yang sudah bisa berjalan sementara yang lain masih merangkak, merambat, bahkan ada yang masih digendong. Namun, kondisi ini justru menuntut usaha yang lebih dari kami untuk membuatnya nyaman dengan lingkungannya. Dia mau bermain seperti apa yang dia mampu, tetapi lingkungannya belum mendukung. Jadi, sering dia “ngambek” tidak mau bermain dengan teman-teman karena tidak ada yang bisa diajaknya berlari atau jalan bersama.  Walhasil, kami cukup kewalahan memotivasinya untuk mau bermain dengan teman. Dia cenderung memilih bermain sendiri. Sedih.

Kebanyakan tetangga kami sangat takut anaknya jatuh, sehingga sangat hati-hati membiarkan anak belajar jalan. Akibatnya, anak pun jadi takut mengambil resiko dan lambat berjalan. Untungnya, kami cukup dekat dengan anak tetangga sehingga bisa memotivasi orang tua mereka agar mendorong anaknya belajar berjalan. Dua bulan kemudian, saat Bintangku berusia 15 bulan, teman-temannya pun sudah ada yang bisa berjalan. Mereka bermain bersama dengan senang setiap pagi dan sore hari.

Selain berjalan, Bintang kecilku juga mulai belajar gerak tubuh. Kalau sebelumnya dia hanya diam saat mendengar musik, di usia 1 tahun dia sudah senang bergerak, tepuk tangan, menggerak-gerakkan jarinya, pergelangan tangan diputar putar, menghentak-hentakkan kaki, geleng-geleng kepala. Gerakannya sangat lucu. Di usia 1 tahun kami mengenalkannya dengan alat music riil sehingga dia belajar mendengar suara yang diproduksi dari alat music itu. Dia belajar memetik senar gitar, ataupun memukul drum (kaleng cat bekas) dengan stik (kayu, pemukul glockenspiel, sikat gigi bekas). Meskipun dia belum bisa bertahan lama dengan permainan tertentu, alias cepat bosan, namun setiap hari paling tidak dia memainkannya. Mengenalkan music sejak dini sangat baik untuk merangsang kreativitas anak. Musik adalah sebuah bahasa. Jika anak belajar ini dari awal, dia akan peka terhadap banyak hal. Kami membiasakannya mendengar musik setiap hari, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Lagu-lagu anak anak selalu ada di mana-mana. Lagu dewasa yang sudah diseleksi pun menjadi pilihan yang tepat. Suatu hari dalam sebuah perjalanan, kami memutar lagu-lagu dewasa dari Casting Crowns. Setelah beberapa menit mendengar, si Bintang bilang, “Lagu laguku … butan ini.” Wkwkwkwk…. Dia protes, lagunya bukan yang sedang diputar ini. Akhirnya kami menggantinya dengan lagu sekolah minggu yang sudah diputar mungkin ribuan kali itu. Wkwkwkwk …

Kemampuan linguistik

Secara bahasa, sejak 1 tahun Bintangku sudah banyak bicara dan menirukan setiap kata-kata yang diucapkan oleh orang di dekatnya. Di usianya yang ke  14 bulan, Bintang kecilku sudah bisa merangkai dua kata bersama-sama, misalnya “Ibu Mima, Ayah Neny (denny), Yanti Yayuk (Yangti Yayuk), Kung Iyo (kakung bagio), Kung betjo (kakung bejo), uti mani (uti marni), om nani (om dani), dan tante ndina (tante dina). Wkwkwkwkwk …. Lucunya. Di usia 17 bulan, dia sudah bisa merangkai kata dalam kalimat, misalnya, “Ibu Mima, Dek Abe mau mimik.” Dia sudah mengerti banyak lagu dan setiap memegang gitar minta diiringi menyanyi. Tetapi, dia belum bisa utuh menyanyi hanya disebut kata-kata paling akhirnya saja. Misalnya, “cicak cicak di …..” dia menyahut, “di dindin.” “Diam diam ….” Dia menyahut “eyayap” dan seterusnya. Hihihihihihi.

Dia sudah mengenal warna hijau, biru, putih, meah jambu (merah jambu), meah (merah), uning (kuning), cukat (coklat). Ibu membuatkannya cat air dari pewarna makanan, baking soda, dan tepung maisena. Dia belajar warna dari situ. Selain itu, dia juga suka memperhatikan lampu lampu yang ada di jalan dan menghafal warnanya meski sering keliru. Wkwkwkwk. Selain warna, Bintangku juga sudah fasih dengan nama anggota tubuh sejak usia 1 tahun. Dia sudah bisa menyebut dan memegang rambut, telinga, hidung, mata, alis, pipi, mulut, gigi, tangan, perut, lutut, kaki. Dan, memasukkan jarinya di hidung (alias ngupil) menjadi hobi barunya di usia 17 bulan. Hihihihihihi.

Karena dia suka membaca buku, maka dia sudah hafal nama nama binatang di usia 12 bulan. Di usianya ke 17 bulan, makin banyak hewan yang dia hafal karena ayahnya mengajaknya melihat Nat Geo Wild (setelah itu ibu larang karena banyak adegan mangsa memangsa yang cukup ngeri). Selain gajah, kuda, kelinci, kucing, ayam, tikus, tupai, burung hantu, elang, katak, sapi, domba, ikan, hiu, lumba-lumba, kura kura, anjing, singa, jerapah, harimau, monyet, dia juga mengenal cheetah dan orang utan. Setiap hari, sedikitnya 3 buku minta dibacakan. Sekarang, di usianya ke 17 bulan, dia sudah mulai bosan dengan buku-buku yang ada di rumah. Tampaknya ibu harus segera mencari rongsok buku baru yang bagus. Wkwkwkwkwk ….

Sosial-emosional

Ibu tidak ingin Bintang kecil bisa melakukan sopan santun tanpa tahu artinya. Jadi, seringkali ibu menjadi sangat rempong memberi tahu si Bintang apa artinya salim, berpamitan, “daaag….daaag”, kiss bye, “permisi,” “tolong,” dan lainnya. Dia sudah bisa mengucapkan dan sangat terbiasa. Tapi untuk mengerti maknanya, itu adalah perjuangan seumur hidup. Hehehehe ….

Tantrum. Hmmmm … di usia 17 bulan, sudah kelihatan dia mulai mengekspresikan emosinya agak berlebihan. Dia sudah bisa “ngambek” jika keinginannya tidak dituruti. Biasanya dia tidak mau digendong lalu duduk di lantai dan merengek-rengek. Kalau keinginannya itu sesuatu yang sangat ia dambakan saat itu juga (misalnya pengen es krim yang ada di freezer), dia akan tidak peduli dengan perkataan ibu atau ayah dan tetap berlari menuju kulkas untuk mencari es krim yand didambanya. Untuk kasus ini, ayah dan ibu bersepakat untuk “diam seribu bahasa alias jadi patung” saat dia mulai menuju ke tantrum. Pengabaian ini bukan tanpa tujuan. Pertama, anak akan belajar bahwa caranya meminta dengan merengek-rengek itu tidak akan mempan dan dia tidak akan mengulanginya lagi. Ke dua, dengan membiarkan anak menangis (mungkin bergulung-gulung), kita memberi kesempatan dia untuk melatih mengekspresikan emosi dengan sehat. Lama-lama dia akan tahu bagaimana mengekspresikan emosi yang bisa didengar orang tua. Jadi, saat anak kita tantrum, jangan panic. Stay cool, pura pura jadi patung, jangan berekspresi apa-apa, berikan kesempatan dia untuk menangis. Jika sudah selesai dan anak siap mendengar kita, kita peluk dia, kita ajak bicara mengapa kita berbuat demikian. Proses ini jika dilakukan terus menerus dengan tekun dan berulang-ulang akan membentuk sebuah bahasa yang anak-anak akan pahami sebagai bahasa “kasih namun adil” di kemudian hari. Bahasa inilah yang akan menolong anak kita mengembangkan karakter yang sehat dan relasi yang kuat dengan orang tua. Kalau tantrumnya di mall bagaimana? Bintang kecilku juga pernah. Karena di mall, dan karakter si Bintang ini strong will-child, kalau kami pura-pura jadi patung, dia akan melakukan sendiri apa yang dia mau. Maka, kami mengendongnya dengan muka datar dan tanpa suara ataupun komentar, membawanya keluar dari mall dengan sangat tenang, meski pun dia meronta-ronta. Sampai di mobil, baru kami biarkan dia mengekspresikan emosinya hingga lelah. Lalu dia datang pada ibu, minta dipeluk. Saat itulah datang teachable moment, sebuah momen untuk mengajarnya apa arti menahan diri, bersabar, dan meminta dengan benar. Huffftttt … sungguh tidak mudah.

Hubungan dengan orang lain?. Dia suka menyapa orang-orang yang dia temui meski belum terlalu akrab dengan mereka. DIa tahu kalau pria yang sudah tua dipanggil “kakung” atau “Mbah”, anak kecil cewek yang lebih besar dari dia dipanggil “kakak”, kalau cowok dipanggil “Mas atau kakak atau koko.” Kalau bayi, dia panggil “adek atau bebi.” Tukang air, tukang bakso, tukang sampah, satpam, semua juga dipanggilnya kalau lewat depan rumah. Namun begitu, bintang kecil bukan termasuk anak yang mudah bermain dengan teman. Dia tidak suka kalau diganggu oleh teman lain saat bermain. Wkwkwkwkwk ….

Sejauh ini, Bintang kecilku belum pernah terlihat memukul temannya. Kami memang sangat ketat dengan gerakan memukul. Berulang kali kami ajarkan tentang betapa tidak baiknya kalau kita gunakan tangan untuk memukul atau kaki untuk menendang (selain bola). Lagu “tanganku kerja buat Tuhan” menjadi media belajar yang sangat baik dalam hal ini. Meski tidak suka bermain dengan teman, Bintang kecil selalu ingin memeluk kalau ketemu temannya. Karena gerakannya belum terkoordinasi dengan sempurna, acapkali temannya yang mau dipeluk jadi takut. Hihihihihihihi. Akhirnya Si bintang menyerah deh.

Sensorik

Deskripsi sensorik kasar beberapa sudah diungkapkan simultan di dalam bagian sebelumnya. Saat ini Bintang kecilku sudah memegang sendok sendiri dengan jempol, jari tengah dan jari telunjuk. Dia juga belajar melukis (abal-abal) dengan cara yang sama seperti memegang pensil warna. Dia menjumput meses, beras, nasi, lauk, maupun membuka lembaran dengan cukup handal. Wkwkwkwk … meski belepotan. Setelah tidak menggunakan softbook lagi, dia belajar membuka buku dengan hati hati agar tidak sobek. Meski sudah ada dua buku yang sobek 1 halaman, dibanding dengan seluruh koleksi bukunya yang masih aman, ibu cukup apresiasi dengan kemampuannya mengendalikan diri untuk tidak merobek bukunya.

 

Satu lagi kabar bahagia. Bintang kecil memakai diapers sejak usia 4 bulan (waktu tidur atau bepergian saja). Di usia 1 tahun, kami mencoba potty training (latihan pipis di kamar mandi tanpa diapers). Beberapa minggu berhasil, beberapa minggu gagal. Masuk usia 16 bulan, kami sudah tidak memberi diapers sama sekali. Bintang kecil sudah melepas diapersnya. Saat usia 17 bulan ini, dia sudah bisa pipis dengan teratur. Meski sempat mengompol karena kami terlambat membawanya ke kamar mandi, tapi dia sudah bisa mengontrol waktu pipisnya. Huh hah … latihan ini cukup keras dan memakan waktu serta tenaga. Tetapi, hasil tidak akan mengkhianati proses. Yuhuuuu …. bye bye diapers …

 

Monumen Satu Tahun

Standard

Lima Januari 2016, tepat satu tahun usia Bintang kecilku.

Kami baru saja pulang balik dari mudik di desa. Rencananya, kami akan bersyukur untuk ulang tahun Abe dengan kakak kakak di Yestoya, di gereja, dan di kampus. Mungkin Si Abe Lelah sekali, jadi kondisi badannya drop sesaat sebelum ulang tahunnya. Tapi kami bersyukur bisa berdoa bersama keluarga Yestoya, lalu dengan keluarga gereja Shine Surabaya juga keesokan harinya.

 

 

Tepat di hari ulang tahunnya, Abe benar benar drop. Badannya panas. Panas tinggi hingga 39 derajat. Awalnya kami pikir hanya kelelahan saja. Tapi lama lama dia tidak mau makan, hanya minum asi saja. Tiga hari berlalu dan demamnya tidak jua hilang. Pada hari ke tiga, kami bawa ke dokter. Setelah diobservasi dan cek darah, ternyata Abe terjangkit Thypus. Harusnya dia dirawat di rumah sakit. Tetapi, kami sungguh tidak tega karena: 1). Bayi pasti akan adaptasi lagi di tempat yang baru. Dalam kondisi sakit, adaptasi akan makin sulit; 2). Di rumah sakit, banyak juga virus bertebaran; 3). Orang tua pasti juga ikut kelelahan jika menjaga di rumah sakit dan tidak fleksibel. Hal ini tidak berlaku umum, hanya untuk kasus kami saja, mungkin orang lain punya alasan dan pengalaman yang berbeda.

Kami mengupayakan Abe untuk tetap dirawat di rumah. Setiap dua jam harus mengompres seluruh badannya dengan air (biasa atau hangat. Jangan air dingin), mengukur suhunya, meminumkan obat, ataupun cairan melalui mulut (tidak perlu infus). Memang ekstra keras. Tetapi, satu minggu kami melewati masa kritis itu dalam pertolongan Tuhan. Bintang kecilku sembuh dan ceria kembali.

Bagaimana perkembangan motoriknya? Sebenarnya, satu minggu sebelum sakit, si Bintang kecil sudah belajar berjalan, tiga langkah dia sudah dapat. Setelah sakit ini, dia urung berdiri sendiri dan belajar berjalan lagi. Ya, harus sabar dan terus memberi semangat kepadanya. Ciaio, Bintang kecilku.

Secara perkembangan bahasa, dia sudah menirukan kata yang kita tekankan. Misalnya, “Ibu mau mandi dulu ya.” Dia akan menyahut, “andi andi.” Dia mengingat dan menyebut nama-nama keluarga, orang orang di sekitarnya, juga beberapa binatang, seperti “Cicak, omba (domba), wawung (Waung atau anjing), cing (kucing), api (sapi), bebek, katak.” Tak lupa, si kecil juga memberi nama pada mainannya. Yang paling terkenal adalah “Dek anda (panda), dan aco (Marko si anjing kecil hadiah dari Ibu Gembala).”

Si Bintang kecil suka sekali dengan buku bergambar. Saya beli beberapa yang bekas, berbahan hardboard (waktu bayi dia menggunakan soft book), dilap pakai tisyu steril, dijemur, lalu siap dibolak balik si kecil. Melalui buku, dia mengenal nama nama binatang beserta suaranya (suara ini diproduksi oleh emaknya atau ayahnya. wkwkwk).

Satu hal lagi sebagai pokok syukur kami, Abe sudah mendapat pengasuh yang mau ikut ke kampus. Setelah satu tahun berdoa, begitu bertemu dengan Embak, Abe langsung lengket. Hal ini betul-betul menjadi monumen bagi kami mengingat satu bukti bahwa Tuhan mengenal kebutuhan anak-anaknya untuk melayani Dia, Dia sediakan tepat pada waktunya dan tanpa diskon, the best. Ibu bisa bekerja dengan tenang sambil mengawasi anaknya yang sedang bermain dengan Embak yang baik ini, juga seorang teman kecil Abe yang lucu, yang juga dibawa bekerja oleh orang tuanya. Tapi, pengalaman ini belum tentu cocok untuk setiap keluarga. Setiap keluarga memiliki karakter masing masing dan pasti telah memilih yang terbaik untuk buah hatinya.

1452647978972

Membuka kado di tahun pertama, meski tanpa perayaan, tetapi sungguh bersahaja dan dalam. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Om, Tante, Eyang.

Memulai tahun baru dengan bertambahnya usia Bintang kecilku, bertambah tambah rasa syukur ini. Untuk suami plus Bapak Asi plus tukang ojek siaga plus plus plus, keluarga yang sekalipun jauh tetapi terus mendukung, berdoa, dan Eyang dan Om yang tidak pernah putus kontak setiap hari memberi semangat, Bapak Ibu gembala dan rekan di gereja, pimpinan di tempat kerja yang sangat bijaksana, kolega, mahasiswa, tetangga, embah pengasuh yang sudah pensiun, sungguh tak terbilang besar dukungannya. Kami berdoa, Tuhan melimpahkan apa yang dibutuhkan untuk terus melayani Dia dan bertumbuh dalam kasih sayangnya.

 

Dalam keharuan dan penuh syukur

Ibu Bintang

 

 

 

Tips Membawa Anak ke Kantor

Standard

Karena tulisan ini bagian dari tulisan tulisan saya sebelumnya tentang motherhood yang sifatnya personal, maka gagasannya tidak bersifat general dan tidak bisa diterapkan pada semua ibu di dunia. Yang saya percayai, semua ibu memiliki panggilan hidup, cara, dan kiat sendiri dalam mengasuh anaknya. Itu benar benar disesuaikan dengan karakter pribadi serta bentuk pekerjaannya. Sehingga, setiap ibu pasti punya cerita yang berbeda. Yang saya tulis di sini dalam rangka berbagi pengalaman untuk ibu ibu yang profesinya maupun karakter pengasuhannya mungkin mirip dengan saya, seorang pendidik yang bekerja di kampus juga di LSM, yang hidup jauh dari orang tua maupun mertua, maupun saudara. Seorang ibu yang sudah satu tahun mencari pengasuh untuk menjaga bayinya di kampus karena di rumah tidak ada yang mengawasi. Para Ibu yang memiliki pengalaman serupa, mari kita belajar bersama.

Bagi Anda ibu pekerja yang harus membawa anak ke kantor, salut buat Anda. Anda telah membuat keputusan yang sangat baik untuk mengerjakan dua hal penting dalam hidup, sekalipun sangat sulit dan berat. Seperti sudah saya singgung dalam artikel sebelumnya, saya sendiri juga membawa baby ke kantor. Berikut ini secuil pengalaman saya.

Pertama,berdiskusilah dengan atasan. Ungkapkan alasan terpenting Anda kenapa harus membawa anak Anda ke kantor. Lalu, buatlah komitmen untuk menyelesaikan tugas tugas Anda seperti saat Anda tidak harus direpoti dengan urusan bayi. Tawarkan berbagai keuntungan yang perusahaan/ instansi bisa dapatkan dari seorang ibu yang membawa anaknya ke kantor, misalnya: ibu akan lebih rileks karena bisa mengawasi anaknya sendiri, mengurangi tingkat stress, mengurangi ijin karena sakit (baik si Ibu maupun si anak), produktivitas meningkat (dengan dekat pada anak, seorang ibu akan mengeluarkan hormon yang membantu rileks dan tenang, sehingga produktivitas kerja dapat meningkat), hiburan di saat jenuh (dengan melihat dan bermain dengan si kecil), serta investasi masa depan (dengan mengijinkan seorang wanita pekerja membawa anak ke kantor, perusahaan tengah berinvestasi untuk masa depan seorang individu penerus bangsa). Memang tidak semua atasan akan setuju, jika semua ibu membawa anaknya ke kantor, kan bahaya. Tetapi cobalah. Bukan semua usia anak bisa dibawa bekerja. Yang dimaksud dalam tulisan ini adalah usia golden age. Usia di mana anak sangat membutuhkan berada di sekitar orang dewasa.

Ke dua, upayakan ada pengasuh yang bisa ikut ke kantor bersama kita. Mereka bisa jadi bukan babysitter ful tetapi hanya bekerja selama kita di kantor. Syaratnya, mereka harus mau mengikuti ke mana pun kita pergi (tentu bukan juga ke toilet ya). Lalu, umumkan pada orang-orang di area kantor Anda bahwa dia adalah pengasuh si kecil di kantor. Hal ini sangat penting untuk menciptakan kontrol pengawasan dan keamanan sehingga orang orang akan notice jika pengasuh membawa anak keluar dari zona ataupun bisa turut mengawasi perilaku pengasuh terhadap anak.

Ke tiga, siapkan tempat yang nyaman untuk anak bermain, bawa alas dan permainan favoritnya. Keluarkan sedikit demi sedikit permainannya sehingga dia tidak merasa bosan. Ijinkan dia mengeksplor apa yang ada di sekelilingnya.

20151127_152423

Karena ingin bermain komputer kantor, terpaksa keyboardnya dilepas untuk dimainkan si kecil di lantai. Meminjam matras dari Kepala saya.

20151201_081231Ke empat, jika harus disambi mengetik, naikkan anak ke atas meja dan berikan permainan yang mebuatnya sibuk.

20151202_104122

Bermain post it di atas meja kerja Ibu.

Ke limat, bawa seluruh keperluan makannya dengan di-pack rapi.

20151130_105108

Makanan si baby: snack, makan siang, buah, makan sore, minum.

Nah, selamat berjuang ya Ibu.

Tips Mengunggah Foto Anak di Medsos

Standard

Oh ya, saya sangat setuju bahwa mengunggah foto anak, apalagi bayi, di medsos (facebook, ig, path) adalah sebuah kenikmatan dan kebanggaan, serta ungkapan syukur.  Selain itu, aktivitas ini adalah positif dan sangat bermanfaat, seperti:

  1. Sarana komunikasi dengan keluarga jauh yang jarang melihat anak kita.
  2. Dokumentasi yang relatif aman dan lama (bisa diakses kapan saja, khususnya jika nanti anak kita sudah besar)
  3. Gudang memori

Tetapi …

Sebagai pengamat media dan anak-anak, kami telah melakukan banyak studi dan kampanye tentang bahaya mengunggah foto anak di medsos. Pertama, siapa saja dapat dengan mudah mendownload foto anak kita untuk kepentingan pribadi/ organisasi mereka. Beberapa waktu lalu santer diberitakan tentang situs/ akun penjualan bayi yang beberapa foto bayi yang dipajang di sana adalah anak para artis, juga beberapa masyarakat. Di dunia internasional, jarignan children trafficking pun berpotensi mengunduh foto-foto bayi bayi lucu di medsos. Ya kalau berhenti pada mengunduh, lha jika diteruskan dengan mencari anak di foto ini? Hmmmm …. Ke dua, foto anak yang sudah diunduh dapat direkayasa sedemikian rupa. Jika sudah tersebar, kita tidak bisa mengendalikan penyebarannya, bukan? Misalnya, dijadikan alat promosi. Seorang teman saya mendapati foto anaknya di sebuah akun online shop yang sama sekali tidak dia kenal. Urusannya jadi panjang. Saya tidak perlu ceritakan di sini ya. Ke tiga, anak anak kita punya privasi. Mereka belum bisa menentukan, tetapi kita yang harus menjaganya dengan bijaksana.

Lalu, bagaimana membendung hasrat meng-upload foto anak di medsos? Tidak bsia. Sungguh. Saya pun merasakannya. Tetapi ada beberapa tips hasil studi yang bisa kita gunakan sebagai panduan.

  1. Jika meng-upload foto anak/ bayi, usahakan tidak kelihatan wajahnya sepenuhnya. Misalnya tertutup benda, makanan,  atau diambil dari belakang sehingga tidak terlihat wajahnya.
  2. Lalu, usahakan foto bayi atau kanak kanak sedang bersama dengan orang tuanya dalam posisi yang dekat. Hal ini untuk menghindari croping.
  3. Gunakan mode blur atau mode lain yang mengaburkan wajah bayi.
  4. Jangan memperlihatkan anggota tubuh bayi secara utuh tanpa pakaian, khususnya bagian vital.
  5. Gunakan watermark moga

 

Dalam jejaring sosial, yang paling aman jika ingin berbagi foto memang melalui jalur pribadi seperti melalui fitur message. Tetapi, jika tidak pun, semoga tips di atas bisa bermanfaat.