Melabeli diri sebagai seorang radikal mungkin terlalu radikal. Persoalannya, “radikal” jua hanya sebuah label yang mengandung stigma, prejudis, dan–sedikit positif thinking–mungkin, “harapan.” Bagi saya, yang penting adalah filosofi di balik label itu (baca di balik radikalisme itu). Jadi apa filosofinya? Seperti membaca Paulo Freire dan berkesimpulan bahwa beliau adalah seorang radikal, filosofi di balik radikalisme penulis blog ini tentunya tersirat dan tersurat dari tulisan dan pemikirannya, bukan?

Ah …

Yang jelas, saya adalah manusia hina yang dipungut, dimandikan dengan air hidup, diterangi dengan terang yang kekal, dan diberikan makanan abadi dan kasih yang tidak fana. Lalu, Sang Pemungut ini berkata, “Sekarang giliranmu  … Maukah Kau berkerja denganku untuk proyek ini?”

Ah …

Saya yang antikemapanan ini?

14 responses »

  1. Ribuan kata tersusun rapi, beberapa menarik dan bikin mrinding (cieh….). Smart people write smart articles. Tetep rajin nulis yah, jangan kayak aku mejen hehehe…love ya sis mwach…

  2. waahh..miss..kereeen..yang aq baca cuma baru yang miss pertama kali masuk petra..heheehe…like that~ keep writing miss..

  3. woww!!!!
    sangat memotivasiku miss..🙂
    sangatttt sangatttt menginspirasi jg..
    jd mengingatkanku utk trus berjuang sampai angkat kaki dari bangku perkuliahan.. (padahal di tengah jalan uda hampir give up)
    hehehehe

    SMANGAT MISS!!
    Keep do your best in HIM..🙂
    GBU all the time

  4. hai mbak salam kenal..
    mbak punya naskah ketoprak ndak.. aku pingin banget buat cerita ketoprak tp utk di gereja ..info ya mbak kalau punya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s